Press "Enter" to skip to content

UNTUK APA MERANTAU? – SUARA HATI BARATDAYA

Enam tahun sudah Dendy merantau meninggalkan kampung halaman. Sebuah desa indah di lereng Gunung Sago. Kampung damai yang dikelilingi hutan hijau dan sawah tertata rapi. Udara yang segar dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Barangkali itulah tempat yang diidam-idamkan oleh para bule kaya di luar sana atau orang-orang yang sudah kenyang akan segala materi dan hidup suntuk di kota metropolitan.

Bagi lelaki Minang, proses merantau menjadi bagian dari tradisi yang pantang untuk tidak ditunaikan. Berkaca dari sejarah turun temurun, para lelaki Minang memang sudah sejak zaman dahulu dianjurkan untuk merantau jauh dari kampung halaman, seakan disuruh untuk belajar lebih jauh tentang kehidupan, menuntut ilmu lebih jauh kepada guru di seberang pulau, atau sekedar mencari rezeki di tanah rantau yang katanya menghadirkan peluang yang jauh lebih besar.

Meninggalkan orang tua, kawan-kawan kecil, rumah tempat bertumbuh, juga lingkungan yang sangat nyaman dengan segala kecukupan, lalu pergi ke negeri orang. Sebuah negeri asing yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Merantau meninggalkan kampung halaman

Bagi Dendy, pergi merantau adalah untuk melanjutkan pendidikan. Sebuah kesempatan hebat baginya bisa berkuliah di salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia, dan bahkan tanpa biaya sama sekali. Pihak kampus menghadiahi beasiswa penuh sampai menyelesaikan pendidikan Master (S2). Alangkah bodohnya jika saat itu tidak mengambil kesempatan ini.

Aliih-alih melanjutkan pendidikan di negeri orang, ternyata proses membawa Dendy lebih jauh lagi. Merantau memang lebih membuka banyak pintu lain di kehidupan. Bagaimana sebuah lingkungan baru memaksa Dendy untuk beradaptasi. Dari udara yang sejuk dan angin sepoy-sepoy khas pegunungan yang biasa dinikmati setiap hari. Sekarang berubah menjadi udara panas dan polusi yang kadang membuat sesak di setiap sudut kota. Seiring berjalannya waktu, tubuh mulai beradaptasi dengan keadaan. Udara segar menjadi hal yang mahal di kota metropolutan ini.

Bertahun-tahun berlalu dan proses perantauan membentuk Dendy menjadi pribadi yang menjadi lebih baik lagi. Proses merantau juga turut andil dalam memperluas relasi dan pertemanan. Tidak hanya di lingkungan sosial, relasi juga punya andil besar dalam dunia pekerjaan. Orang-orang yang punya relasi luas cenderung mudah mendapatkan pekerjaan ataupun dalam menjalankan dunia usaha. Bisa dibayangkan betapa mudahnya menjual produk ketika kita punya kenalan lebih dari seribu orang ketimbang hanya mempunyai sepuluh atau dua puluh orang kenalan. Relasi adalah satu hal penting yang harus kita bangun, dengan siapapun, dengan kalangan manapun. Karena kita tidak pernah tahu pasti dengan siapa kita akan bekerjasama kelak, atau kita juga tidak akan pernah bisa memprediksi siapa partner bisnis kita di masa depan, bisa saja orang yang baru kita kenal di perguruan tinggi atau bisa saja orang yang kita kenal di perjalanan. Hidup memang tidak bisa ditebak, tapi kita bisa mempersiapkan segala sesuatu yang terbaik.

Bagi Dendy yang sudah cukup lama hidup di kota besar, menemukan tempat sunyi dan sejuk menjadi sebuah kesenangan. Jadilah Dendy sesekali pergi melancong atau sekedar berlibur ke desa-desa di kota terdekat. Suatu ketika Dendy pernah merenung di pinggir Situ Cileunca, tentang kampung halaman. Sebuah pertanyaan klasik kemudian muncul, untuk apa sebenarnya meninggalkan semua kenyamanan di kampung halaman lalu pergi mengadu nasib ke kota besar? Berharap kehidupan yang lebih layak, meski sejatinya kampung halaman adalah tempat paling layak dan nyaman?

Dendy memperoleh jawaban sementara dari hasil renungan di pinggir danau buatan itu, untuk sejenak keluar dari zona nyaman itu sendiri, lalu berproses menjadi jauh lebih baik untuk kelak kembali lagi ke tempat dimana semua berasal, kampung halaman.

Be First to Comment

    Tinggalkan Balasan