Press "Enter" to skip to content

BENTENG INDRAPATRA: CAGAR BUDAYA INDONESIA YANG HARUS DIRAWAT ATAU MUSNAH DITELAN MASA!

Aceh ternyata memilik beragam rahasia sejarah yang tak boleh dilupakan. Ada rahasia besar yang bersemayam di tanah Serambi Mekkah. Berbagai peninggalan sejarah berupa bagunan-bangunan tua, kesenian, batu-batu bercorak, serta adat istiadat dan budaya memiliki sebuah cerita panjang di baliknya. Tak hanya sekedar menyimpan sejarah tentang kejayaan peradaban Islam saja. Jauh sebelum Aceh mendapat julukan Daerah Istimewa Aceh, jauh sebelum kejayaan Kerajaan Samudera Pasai, jauh sebelum Islam masuk ke dalam sendi kehidupan masyarakat Aceh, berabad-abad yang lalu agama Hindu telah lebih dahulu menonggakkan sejarahnya di peradaban masyarakat Aceh.

BENTENG INDRAPATRA: SEJARAH YANG MULAI TERLUPA

Benteng Indrapatra atau Indra Patra, begitu masyarakat mengenalnya, menjadi salah satu saksi bisu masa keemasan kerajaan Hindu di Aceh yang terletak di sekitaran Pantai Ujoeng Kareung, Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Berjarak 19 kilometer ke arah barat dari Banda Aceh. Letaknya persis di bibir pantai yang menghadap ke laut Selat Malaka. Konon benteng ini didirikan sekitar tahun 604 M oleh Putra Raja Harsya yang berkuasa di India yang melarikan diri dari kejaran Bangsa Huna yang kemudian mendirikan sebuah kerajaan Hindu pertama di Aceh, Kerajaan Lemuri. Benteng Indrapatra memiliki peran untuk membendung serta membentengi masyarakat Kerajaan Lemuri dari serangan invasi kapal-kapal penjajah yang datang dari selat Malaka.

Tak salah juga rasanya keberadaan Benteng Indrapatra menjadi saksi sejarah mengenai proses masuknya pengaruh Hindu dari India ke Aceh. Pada saat itu Kerajaan Lamuri mulai berkembang di daerah Pesisir Utara Aceh Besar. Wilayah kekuasaan Kerajaan Lamuri mencakup daerah yang sekarang masuk wilayah administratif Kabupaten Aceh Besar.

Benteng Indrapatra merupakan sebuah benteng utama yang berukuran sekitar 4900 meter persegi. Dengan ketinggian mencapai 4 meter dan ketebalan sekitar 2 meter. Pada bagian lain juga terdapat lubang pengintai yang menghadap ke laut menjadikan Benteng Indrapatra sebagai sebuah tempat yang sempurna untuk melawan perlawanan invasi dari arah laut kala itu. Selain itu terdapat juga bunker untuk menyimpan meriam-meriam dan peluru.

Ada berbagai bukti kuat yang menandakan bahwa benteng ini adalah sebuah mahakarya dari agama Hindu, salah satu bukti nyata yang bisa dilihat hingga saat ini adalah ditemukannya benteng sumur yang berbentuk menyerupai stupa di dalam Benteng Indrapatra. Pada masanya, sumur ini berfungsi sebagai sumber air bersih yang dimanfaatkan oleh umat Hindu untuk mensucikan diri dalam rangka peribadatannya.

Walaupun pernah diterjang bencana tsunami, tapi konstruksi bangunan ini masih kokoh. Terlihat dengan sisa puing-puing pondasi yang tak sanggup diseret ombak dari tempatnya menancap. Sebuah konstruksi kokoh yang tak lekang oleh waktu, tak diseret oleh alam. Sebuah mahakarya luar biasa yang dibuat dengan sederhana dan dengan bahan apa adanya. Jangan berharap semen dan berbagai alat berat berada disana waktu itu. Mustahil. Adalah pemikiran yang matang dengan hal yang seadanyalah yang menjadi tonggak berdirinya benteng kokoh dibibir laut ini.

Konstruksi Benteng Indrapatra terbuat dari beton kapur, sebuah susunan bongkahan batu gunung yang kemudian disusun sedemikian rupa dan direkatkan dengan campuran kapur, tumbukan kulit kerang, tanah liat, dan putih telur. Sebuah adonan perekat yang paling merekatkan di masanya. Adonan perekat dengan menggunakan putih telur tak hanya dipakai untuk mendirikan Benteng Indrapatra tapi juga digunakan untuk membangun Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang sudah tidak diragukan lagi ketahanan dan keindahannya. Semuanya dari alam.

Tak banyak catatan mengenai kehidupan benteng ini semasa kejayaan Hindu, namun sejarah terus berlanjut. Setelah runtuhnya kerajaan Hindu di Aceh hingga bersinarnya kejayaan Islam yang cemerlang, Benteng Indrapatra yang telah dikuasai oleh Portugis kemudian direbut kembali oleh seorang lelaki gagah perkasa bernama Darmawangsa Tun Pangkat (Iskandar Muda) semasa Kesultanan Aceh.

Sejak saat itulah semasa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) dengan laksamananya yang sangat terkenal dan disegani, Laksamana Malahayati yang juga merupakan laksamana wanita yang pertama di dunia, Benteng Indapatra bersama Benteng Inong Balee, Benteng Kuta Lubok dan beberapa benteng lainnya menjadi pusat pertahanan Aceh dalam menghadang serangan dari arah laut. Posisi Benteng Indrapatra yang berhadapan dengan Benteng Inong Balee di seberang timur Teluk Krueng Raya, berperan strategis dalam mencegah armada Portugis memasuki Aceh melalui teluk ini.

CAGAR BUDAYA INDONESIA: RAWAT ATAU MUSNAH!

Beratus tahun telah berlalu semenjak Benteng Indrapatra berdiri kokoh menantang berbagai invasi terhadap bumi pertiwi. Benteng ini telah menjadi saksi bisu sejarah berbagai kisah peperangan, pemberontakan, intrik dan kepahlawanan rakyat Aceh mulai dari kejayaan Hindu hingga lintas menuju keemasan Islam sampai sekarang ini di tanah rencong. Sekarang yang tersisa hanya puing-puing bangunan yang berisi penderitaan, kesakitan, teriakan dan kemenangan. Semuanya tertidur dalam ingatan bangunan tak bersuara. Sepi. Senyap. Sunyi.

Kini Benteng Indrapatra dikelola oleh pihak pemerintahan sebagai Cagar Budaya Indonesia dan pernah beberapa kali dilakukan pemugaran setelah peristiwa tsunami besar yang pernah melanda Aceh. Beberapa bagian benteng sudah tak berbentuk dan rusak termakan oleh waktu, namun beberapa bagian masih terlihat utuh dan kokoh menghadang berbagai kemungkinan.

Sebagai warga negara Indonesia sudah sepatutnya kita turut andil dalam menjaga dan melestarikan cagar budaya yang ada terkhususnya Benteng Indrapatra.

1. TIDAK MERUSAK STRUKTUR BANGUNAN

Benteng yang telah berdiri semenjak tahun 604 M ini tentu takkan kuat bertahan melawan alam seperti hujan, angin serta panas jika kita tak menjaganya. Hendaknya sebagai warga negara yang cinta tanah air, sudah sepatutnya kita menjauhkan tangan-tangan jahil yang mungkin saja bisa merusak dan merobohkan cagar budaya. Cukup lakukan hal sederhana dengan berhati-hati ketika berfoto dan tak mencoret-coret bangunan sehingga keaslian sejarahnya tetap terjaga.

2. MENGEDUKASI NILAI SEJARAH KEPADA GENERASI PENERUS

Sebagai sebuah sejarah, cerita seputar keberadaan benteng ini perlahan-lahan akan terlupakan. Dan bahkan bisa jadi generasi mendatang tidak akan tahu apa sebenarnya bongkahan puing-puing bangunan ini. Sejarah hanya akan menjadi milik masa lalu tanpa diceritakan kembali kepada generasi penerus. Menceritakan kembali sejarah serta memberikan pemahaman makna peristiwa yang terjadi di Benteng Indrapatra sebagai bentuk perlawanan masyarakat Aceh terhadap penjajahan menjadi hal wajib yang tentunya harus kita sampaikan agar generasi penerus bisa lebih memahami dan mencintai sejarah bangsanya.

Dengan terus menyampaikan cerita yang mengedukasi tentang situs Cagar Budaya Indonesia, kita sudah selangkah lebih maju dalam menyalurkan estafet perubahan kepada generasi yang akan datang. Mari rawat Cagar Budaya Indonesia agar nilai-nilai luhur sejarah peradaban bangsa bisa tetap terjaga, lestari, utuh dan dikenang hingga akhir masa.

Salam Pejalan!


Have a nice day!
Stay tuned for more of our adventures.
Happy travel and leave no trash!


Hai, karena kamu udah disini…

..Kami punya beberapa permintaan. Beberapa orang mungkin telah membaca ibadahmimpi.com. Seperti yang kamu ketahui, melakukan perjalanan itu membutuhkan banyak waktu, uang dan usaha untuk menghasilkan sebuah karya. Kami melakukannya karena kami percaya bahwa sudut pandang kami sangat berguna bagi dunia – karena itu mungkin saja bakal menjadi sudut pandang kamu dalam memandang dunia juga.

Jika kamu suka dengan ibadahmimpi.com, mari luangkan waktu buat mendukung blog ini untuk terus berkarya dan memberikan dampak positif kepada dunia. Bantuan kecil yang kamu berikan misalnya dengan subscribe blog ini atau memberikan bantuan dana berapapun yang kamu mau akan sangat berarti buat kami – dan itu gak butuh waktu yang banyak. Salam semoga kita bersua dan berbagi cerita!

Support ibadahmimpi.com

8 Comments

  1. Mesra Berkelana Mesra Berkelana November 19, 2019

    Aku baru tahu lho kalo di Aceh ada cagar budaya dg corak Hindu. Aku kira Aceh itu sedari awal sudah diduduki oleh agama Islam.

    • ibadahmimpi ibadahmimpi November 20, 2019

      Wahhh ternyata ada kepingan sejarah yang hilang selama ini.

  2. Melly Feyadin Melly Feyadin November 20, 2019

    Banyak sekali ya PR kita sebagai warga negara Indonesia, salah satunya merawat cagar budaya seperti ini supdaya gak terkikis jaman keberadaannya. Nggak cuma tugas pemerintah, tapi tugas kita semua.

    • ibadahmimpi ibadahmimpi November 20, 2019

      Betul sekali. Merawat cagar budaya sudah sepatutnya.

  3. Bang Day Bang Day November 20, 2019

    Sayang yah kalo gak sampe keurus. Padahal banyak yang bisa diceritakan untuk generasi selanjutnya dari peninggalan2 bersejarah

    • ibadahmimpi ibadahmimpi November 20, 2019

      Bener banget bang. Banyak cerita yang harusnya bisa diceritakan kembali…

  4. Hastira Hastira November 23, 2019

    wah keren ya, aku juag suka memperhatikan beberapa benteng peninggalan belanda, selalu sama di ebberapa hal arsitekturnya

    • ibadahmimpi ibadahmimpi November 23, 2019

      Semoga sejarah bisa selalu tersalurkan ke generasi penerus.

Leave a Reply