Press "Enter" to skip to content

ALAM DAN KITA ADALAH SATU

Sampai detik ini kabut asap masih menjadi problematika yang tak pernah tuntas-tuntasnya dihadapi bumi nusantara. Kebakaran hutan yang berpusat di Kalimantan dan Sumatra mengisi setiap helai kabar berita cetak maupun dunia maya. Berbagai spekulasi penyebabnyapun bermunculan dengan berbagai kepentingan yang melatarbelakangi setiap alasannya. Alam menjadi tempat yang paling banyak menderita dan terkadang menjadi kambing hitam yang paling ampuh untuk menghilangkan sebuah kecerobohan.

Kami tak pernah sanggup membayangkan apa jadinya jika alam bumi pertiwi yang dibaluti kawasan hutan hijau tropis ini menjadi gersang dan tandus layaknya sebuah gurun. Membayangkan Sumatra atau Kalimantan kehilangan hutan rimbanya yang rimbun membuat kami merinding. Apa jadinya bila semua itu benar-benar terjadi? Oh Tuhan, semoga itu hanya menjadi khayalan kami yang kurang ajar saja.

Foto udara petugas Manggala Agni Daops Kota Jambi saat mengupayakan pemadaman kebakaran lahan gambut di Kumpeh Ulu, Muarojambi, Jambi, Selasa, 6/8/2019 (Foto via tirto.id)

Bencana adalah satu-satunya apa yang akan kita dapatkan jikalau tak bisa menjaga kelestarian alam. Tak perlu pelik-pelik, lihatlah hutan rimba kita yang setiap tahun selalu menghadapi permasalahan yang itu-itu saja. Demi merogoh keuntungan yang sebesar-besarnya dengan cara memperluas lahan, hutan di bakar dengan sengaja dan membabi buta. Beberapa oknumpun telah tertangkap basah membawa perkakas dalam menjalankan aksinya. Yang bodohnya, bayaran yang diterima para pelaku ternyata hanya seujung jari kuku dibandingkan kerugian yang diakibatkan setelahnya. Apakah manusia tidak mampu berpikir jernih?

Tak usahlah kami berbelit-belit bercerita panjang lebar tentang sebuah bencana, cukup lihatlah yang sedang viral di media dan sampai saat ini dampaknya masih dirasakan beberapa daerah nusantara bahkan negara tetangga. Sekali api dijentikkan ke dalam hutan, nyalanya akan menyebar tak terkira ke segala penjuru arah. Kebakaran tak terelakkan. Sebuah bencana baru lahir dari alam yang marah, kabut asap. Menyeruak dari titik-titik api dan terbang ke segala penjuru daerah selayaknya malaikat maut yang siap mengisi paru-paru siapapun yang menghisapnya dan tak segan-segan nyawapun menjadi permainan. Tak tanggung-tanggung, sudah beberapa hari kampung kami, Payakumbuh, tak tersentuh sinar matahari. Yang lebih ekstrimnya, suhu menjadi turun bukan kepalang. Tak pernah sekalipun kami merasakan cuaca sedingin ini selama hidup di kampung kecil ini.

Itu baru permulaan, dampak yang ditimbulkan karena asap yang terus-terusan dihirup manusiapun tak kalah peliknya. Udara segar yang telah digantikan oleh gas-gas karbondioksida dan beracun lainnya menjadi pelopor utama munculnya masalah kesehatan seperti ISPA, Pneumonia (radang paru-paru) serta kambuhnya asma yang berujung pada kematian. Kabut asap juga bisa menyebabkan alergi pada kulit dan gatal-gatal serta gangguan kelopak mata. Lain halnya jika debu-debunya hinggap dan menempel di makanan dan minuman yang dikonsumsi setiap hari, dipastikan masalah pencernaan akan menjadi problematika utama beberapa hari penuh. Tak heran rasanya banyak warga di beberapa daerah yang terkena dampak terparah kabut asap akibat kebakaran hutan lebih memilih mengungsi meninggalkan rumah mereka yang telah dihinggapi malaikat maut yang selalu mengaungkan lagu kematian.

Satu-satunya yang kita butuhkan agar Siap Untuk Selamat ketika bencana yang kita anggap remeh temah seperti ini tidak terulang kembali dan berdampak lebih buruk dan lebih merugikan dikemudian hari adalah adanya Budaya Sadar Bencana. Menyadari setiap dampak dari tindakan yang akan dan mungkin saja kita lakukan berkaitan dengan alam. Meningkatkan wawasan kita akan betapa pentingnya keseimbangan dan kelestarian kita dengan alam. Kenali Bahayanya, Kurangi Risikonya agar kejadian seperti ini tak terulang kembali. Agar kabut asap tak menjadi permasalahan musiman negeri ini. Agar setiap kegiatan yang kita lakukan tak terganggu dengan bencana berulang setiap tahunnya.

Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita. Sebuah keharmonisan yang selalu diidam-idamkan. Semoga kita semua mampu menjadi manusia yang manusia, manusia yang mampu hidup harmonis dengan alam, manusia yang tidak serakah, manusia yang selalu menjaga keindahan dan kelestarian hidup ini. Bukankah hidup itu indah jika kita bisa menikmati udara segar setiap hari sambil sesekali bermain dan bersantai di rimbunnya belantara hutan-hutan rimba?

Selain menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga alam, kami juga selalu membawa sebuah buku saku tanggap menghadapi bencana yang dikeluarkan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) yang bisa dimiliki semua orang dengan mendownload gratis. Semoga kita semua sadar bahwa kita dan alam adalah satu.

Salam lestari!


#TangguhAwards2019 #KitaJagaAlam #AlamJagaKita #KenaliBahayanyaKurangiRisikonya #BudayaSadarBencana #SiapUntukSelamat

12 Comments

  1. Hastira Hastira September 25, 2019

    oleh sebab itu harus dijaga agar lestari

  2. Astriatrianjani Astriatrianjani September 25, 2019

    Saya yang jauh dari bencana kabut asap saja ikutan sedih dan miris dengan bencana tersebut.
    Tulisan ini pasti ditulis pakai hato, karena saya ikut terbawa suasana pula…
    Semoga ke depannya hal-hal seperti ini bisa diatasi dan nggak terulang terus. Kesadaran diri memang hal yang utama…..

    • ibadahmimpi ibadahmimpi September 28, 2019

      iya mbak. Sedih rasanya masalah kabut asap ini terus berulang setiap tahunnya.

  3. Kakatea ID Kakatea ID October 6, 2019

    Alam adalah guru terbaik dalam kehidupan dan penyeimbang ekosistem yang ada dibumi. Maka dari itu jaga baik-baik alam kita sebagaimana alam telah memberikan kita kehidupan. Mantap ka sukses selalu ya.

  4. Juanomatheus Juanomatheus October 6, 2019

    Artikel yang sangat menarik 👍

  5. Fanny Fristhika Nila Fanny Fristhika Nila October 26, 2019

    sedih kalo membaca anak2 kecil dan bayi yg trkena ispa :(.. kebayang sesaknya dan menderitanya mereka.. apalagi banyak yang malah meninggal.. belum lagi hewan2 seperti orang hutan dan monyet2 hutan :(. kadang ga ngerti ama kerakusan manusia.. apa gunanya uang yang didapat kalo harus tinggal di bumi yang gersang dan trus2an marah…

Leave a Reply