Press "Enter" to skip to content

RINJANI DAN RINDU YANG MENJADI-JADI

Dalam kenangan Dendy di tahun 2017

Sebuah rindu kadang datang dengan cara yang tak terduga. Ia bisa datang melalui perantara apa saja. Bisa jadi lewat hujan yang tiba-tiba mengguyur pagimu dan membawa rindu itu, atau dengan angin malam yang lembut membuai datang menyapamu, atau bisa juga melalui lamunan dan ingatan. Rindu bisa datang dari mana saja.

Kali ini, saya rindu akan sesuatu yang berbeda dari rindu pada umumnya. Jika biasanya orang-orang merindukan seseorang yang dicinta atau mereka merindukan sebuah tempat dimana bahagia mengalir didalamnya, saya justru rindu pada sebuah proses perjalanan panjang. Saya merindukan perjalanan ke Gunung Rinjani yang berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sebuah rindu menuju punjak Dewi Anjani. Saya benar-benar merindukan semua elemen yang terlibat dalam perjalanan itu.

Perjalanan yang bermula dari jakarta bersama Bang Yudha @catatanbackpacker dan disambut Uda Giri @langkahjauh di Mataram ini menyimpan banyak kenangan yang tak terlupakan.

Tepat jam 10 pagi, saya dan Bang Yudha mendarat di Bandara Internasional Lombok. Ketika sampai kami dilanda kebingungan, Bandara Internasional Lombok ternyata berlokasi cukup jauh dari kota Mataram. Keadaan mendesak membuat kami harus memutar otak untuk mencari transportasi menuju Mataram. Pilihannya adalah taksi, travel atau menghubungi teman. Pilihan pertama jelas terlalu berat buat saya yang notabenenya adalah seorang Backpacker(e), naik taksi ke Mataram sama saja dengan buang-buang uang. Pilihan ke dua pun demikian, ongkos travel yang sama dengan uang makan kami selama 2 hari, sekitar Rp 50.000 membuat kami berpikir berpuluh kali.

Jadilah Pilihan ke tiga yang paling memungkinkan, menghubungi teman yang menetap di Lombok. Langsung saja saya menghubungi Jagung @yudapurnawirawan, seorang teman yang saya kenal dari instagram. Sekitar 30 menit kemudian, Jagung sudah sampai di depan bandara. Tapi ada kendala lain, kendaraan masih kurang. Untunglah, berkat nama baik seorang @catatanbackpacker yang punya banyak teman dimana saja, akhirnya ada seorang teman lain yang mau menjemput. Jadilah kami ke Mataram dengan sepeda motor bantuan teman.

Sesampainya di Mataram, Uda Guri sudah menunggu di Rumah Singgah Lombok. Sekaligus ia mencarikan transportasi menuju ke Sembalun, tempat gerbang pendakian gunung Rinjani dimulai. Ada dua pilihan menuju Sembalun, pilihan pertama adalah dengan transportasi umum yang biasa disebut dengan Engkel. Jika memilih transportasi ini maka dibutuhkan dua kali naik Engkel. Pertama dari terminal Mataram menuju Aikmel dengan ongkos sekitar 30-50 ribu tergantung negosiasi. Setelah sampai di Aikmel, berpindah ke Engkel lain jurusan Sembalun dengan ongkos 40-50 ribu. Jadi jika menumpangi Engkel, paling tidak bisa menghabiskan dana sebesar Rp. 70.000.

Pilihan kedua adalah dengan menumpangi mobil sayur yang biasa bolak-balik Sembalun – Mataram. Ongkosnya hanya 50 ribu. Tapi lebih cepat karena tidak ‘ngetem’. Jadilah kami memilih menumpangi mobil sayur yang sebelumnya sudah dihubungi Uda Guri. Resiko menumpangi mobil sayur harus duduk di belakang dan berkawan angin secara langsung. Tapi tak masalah, justru itulah estetika dari sebuah perjalanan. Menghabiskan waktu bersama teman dengan cara yang tak biasa.

Perjalanan dari Mataram ke Sembalun ditempuh kurang lebih selama 4 jam. Selama di atas mobil, kami saling bercanda dan bercerita perihal pengalaman masing-masing. Bang Yudha dengan cerita hitchhikingnya yang melegenda dan juga Uda Guri dengan cerita solo Backpackernya kemana-mana.

Di tengah perjalanan ketika sampai di Tete Batu, Bang Yudha minta izin turun dari mobil pick up tumpangan kami karena tak ikut naik Rinjani, dia memutuskan untuk berkunjung ke sebuah desa di Tete Batu. Sedangkan saya dan Uda Guri tetap melanjutkan perjalanan yang sudah kami rencanakan.

Sekitar jam 4 sore, saya dan Uda Guri sampai di Sembalun. Untuk saya yang baru pertama kali melihat Sembalun dengan mata kepala sendiri. Hal pertama yang saya rasakan sungguh tak bisa diungkapkan! Seperti berada di negeri dongeng! Ah! Indah sekali desa ini. Bukit-bukit yang menjulang tinggi berselimut kabut yang setiap saat berlalu-lalang disapu angin membuat tempat ini jadi makin luar biasa. Untuk beberapa saat saya hanya tertegun dan terkagum akan keindahan semesta ini.

Tak mau membuang-buang waktu, saya dan Uda Guri langsung menuju Pos Pendaftaran Pendakian Gunung Rinjani dan membayar biaya simaksi pendakian dengan total Rp. 35.000/orang untuk 3 malam sudah termasuk asuransi. Selesai dengan urusan administrasi dan mengecek ulang perlengkapan serta logistik untuk pendakian, kamipun mulai melanjutkan perjalanan menuju Buangnangu, jalur pintas di Sembalun. Jika dibandingkan dengan jalur lama dari Pos Sembalun, lewat Jalur Buangnangu bisa menghemat sekitar satu sampai dua jam perjalanan. Rute jalur ini berada sekitar 2 km dari pos pendaftaran Sembalun, pendaki bisa menumpangi mobil sayur ataupun menyewa ojek untuk pergi ke Buangnamu.

Sekitar pukul 4 lewat 10 menit, saya dan Uda Guri mulai melangkah memasuki jalur pendakian gunung Rinjani. Perjalanan menuju Pos 1 biasanya ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 sampai 3 jam dengan jalur agak landai dan masih banyak ‘bonus’nya. Karena kami hanya berdua dalam pendakian ini, jadilah saya dan Uda Guri bersepakat untuk melakukan pendakian dengan santai dan tidak terlalu menargetkan waktu. Disamping beban carrier yang lumayan berat karena tidak menggunakan jasa porter, saya juga sudah cukup lama tidak mendaki gunung, kurang lebih sudah vakum selama 6 bulan. Maklum karena urusan perkuliahan.

Belum sampai di Pos 1, matahari sudah dahulu mengalah kepada malam. Alhasil langit dengan warna-warni indah menyambut kami keluar dari hutan menuju Pos 1. Suara adzan maghrib masih terdengar berkumandang di negeri seribu masjid ini. Sejenak kami berhenti dan menunaikan ibadah shalat maghrib. Banyak orang yang beralasan mendaki gunung karena ingin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, tapi malah banyak yang lupa akan kewajiban sebenarnya.

Seiring malam yang mulai membawa gelap, dingin angin yang bertiup dari puncak Rinjani mulai membuat saya menggigil karena terlalu lama berdiam dan berhenti. Kami memutuskan melanjutkan perjalanan menuju Pos 2. Alat penerangan seperti senter dan head lamp dipersiapkan dan kami mulai menapaki langkah demi langkah di jalur Sembalun.

Tepat pukul 9 malam, saya dan Uda Guri sampai di Pos 2. Fisik saya lumayan terkuras karena perjalanan non-stop dari Jakarta dan langsung menuju Sembalun lalu memulai mendaki Gunung Rinjani. Segera saya bergegas mendirikan tenda sebagai tempat perlindungan kami malam ini dari dinginnya Rinjani. Bintang-bintang terlihat sangat jelas disini, tak ada polusi udara sama sekali. Sungguh sangat berbeda dari tempat tidur saya kemarin malam di ibu kota. Jangankan melihat bintang, menyaksikan langit tanpa polusi saja teramat susah.

Sementara saya mendirikan tenda, Uda Guri sudah siap dengan santapan makan malam kali ini. Seperti biasa, mie instan dengan tambahan sayur yang banyak sudah sangat cukup untuk mengisi perut dan tenaga untuk pendakian yang masih cukup panjang ini. Tak mau buang-buang waktu, setelah mengisi perut, kami langsung mengistirahatkan tubuh untuk perjalanan esok hari.

Matahari pagi di Pos 2 membangunkan tidur saya yang cukup nyenyak. Dingin masih menusuk meski matahari berusaha menghangatkan. Beberapa orang porter sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk tamu-tamu mereka yang kebanyakan adalah bule. Langit sungguh cerah pagi ini, secerah semangat saya untuk melanjutkan pendakian menuju Puncak Dewi Anjani yang masih cukup jauh.

Setelah selesai sarapan dengan makanan ala kadarnya tapi entah kenapa teramat nikmat jika disantap ditambah beberapa teguk susu jahe, kami berkemas dan bersiap melanjutkan perjalanan menuju Pos 3.

Perjalanan menuju Pos 3 sungguh luar biasa, pemandangan yang membuat saya selalu terkagum setiap melayangkan pandangan ke berbagai arah. Hamparan sabana yang luasnya entah berapa, lalu jauh disana membayang puncak Dewi Anjani dengan latar belakang langit biru yang sangat cerah memanggil kami.

Di sepanjang jalan, kami membicarakan apa saja tentang cerita perjalanan masing-masing. Beberapa kali saling bergantian memotret. Kadang saya berjalan lebih dulu beberapa meter agar Uda Guri bisa mengambil gambar dengan saya sebagai objek.

Para porter yang tadinya berada jauh di belakang kamipun menyusul. Tanpa memakai sepatu, mereka membawa beban yang jauh lebih berat dari beban pendaki biasa. Tak ada wajah mengeluh di muka mereka, setiap bertemu dengan saya mereka selalu tersenyum dan menyajikan raut muka semangat. Orang-orang yang luar biasa, pejuang hidup yang sesungguhnya.

Tak jauh dari Pos 2, saya melihat sebuah pohon yang hanya berdiri sendiri. Sebuah lokasi yang sangat sayang untuk tidak diabadikan dalam jepretan kamera. Jadilah kami bersepakat untuk sejenak berhenti dan mengambil beberapa gambar di dekat pohon tersebut.

Matahari masih setia menemani perjalanan dipagi menjelang siang ini. Udara yang dingin membuat sengatan matahari jadi tak terasa. Tapi efek ini akan dirasakan nanti setelah pendakian, kulit akan terbakar dan menghitam.

Perjalanan panjang akhirnya membuahkan hasil. Samudera awan menyambut para pendaki yang mencari makna diri di ketinggian untuk mendapatkan pemahaman ilhami. Puncak Dewi Anjani menjelma menjadi sebuah tempat dimana pemaknaan tentang hidup menjadi lebih berarti. Tak ada kata yang mampu menjelaskan betapa sebenarnya semesta adalah jelmaan keindahan itu sendiri.

Semesta memang sederhana, namun keindahannya sangat sulit untuk dicerna. Tak ada kata yang keluar dari mulut saya selain terkagum dan terpesona akan keindahan di puncak Rinjani ini. Pendakian di Rinjani mengajarkan saya tentang sebuah perjuangan, kepenatan, keletihan, ketidakberdayaan serta kebersyukuran tentang hidup ini. Rinjani adalah sebuah kecamuk di dalam diri yang menjelma menjadi sebuah rindu yang menjadi-jadi.

Sebuah rindu yang akan saya kenang dalam setiap perjalanan menapai jejak di luasnya semesta. Semoga suatu saat nanti saya bisa kembali.


Have a nice day!
Stay tuned for more of our adventures.
Happy travel and leave no trash!


Dukung kami untuk terus berkarya dengan share cerita ini ke media sosial kamu ya.
Dan jangan lupa follow kami di Twitter @baratdaya_@ibadahmimpi, Instagram @ibadahmimpi / @redhaandikaahdi / @baratdaya_ & Facebook biar kamu gak ketinggalan cerita perjalanan unik bersama kami.


Hai, karena kamu udah disini…

..Kami punya beberapa permintaan. Beberapa orang mungkin telah membaca ibadahmimpi.com. Seperti yang kamu ketahui, melakukan perjalanan itu membutuhkan banyak waktu, uang dan usaha untuk menghasilkan sebuah karya. Kami melakukannya karena kami percaya bahwa sudut pandang kami sangat berguna bagi dunia – karena itu mungkin saja bakal menjadi sudut pandang kamu dalam memandang dunia juga.

Jika kamu suka dengan ibadahmimpi.com, mari luangkan waktu buat mendukung blog ini untuk terus berkarya dan memberikan dampak positif kepada dunia. Bantuan kecil yang kamu berikan misalnya dengan subscribe blog ini atau memberikan bantuan dana berapapun yang kamu mau akan sangat berarti buat kami – dan itu gak butuh waktu yang banyak. Salam semoga kita bersua dan berbagi cerita!

Support ibadahmimpi.com

14 Comments

  1. indosurvival.com indosurvival.com July 8, 2019

    catatan pendakian yang menarik sekali, ditunggu catatan pendakian gunung-gunung lainnya mas.

    • ibadahmimpi ibadahmimpi July 8, 2019

      semoga kami bisa mendaki gunung-gunung yang indahh lainnya di Indonesia ini ya mas broo..
      hahaha

    • ibadahmimpi ibadahmimpi July 13, 2019

      Ayoo naik gununggg…
      Mana tau semesta menyuguhkan pengalaman berharga buat

  2. Matius Teguh Nugroho Matius Teguh Nugroho July 17, 2019

    I feel you, bro. Cuma kalau buat aku, bukan pendakian gunung sih yang membuat rindu menggebu-gebu, namun proses perjalanan darat antar kota antar negara yang kujalani tahun 2015. Saat itu aku menjelajah Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Ditambah, selain 1 malam pertama, malam-malam berikutnya aku numpang tidur di rumah warga lokal melalui jejaring Couchsurfing. Aaaaaahhh rindu sekali momen-momen itu, dan mau lagi dengan negara-negara yang baru!

    Hm, aku sih sebelum traveling akan cari informasi dulu sebanyak-banyaknya, khususnya soal transportasi umum karena ini adalah salah satu hal krusial dalam perjalanan. Biar nggak kaget dan bingung di TKP. Aku memang lebih ke tipe planned traveler sih. Ini kapan sih pendakiannya, bro?

    • ibadahmimpi ibadahmimpi July 17, 2019

      wahh ternyata kita punya cara yang berbeda ya dalam memaknai perjalanan mas bro. wkwkwk

      ini di tahun 2017 yang lampau mas bro, udah lama juga. Jadi kangen

Leave a Reply