Press "Enter" to skip to content

PUNCAK MEGAH MARAPI

Sir Edmund Hillary, seorang pria yang menaklukkan ganasnya Himalaya dan menginjakan kakinya di puncak Everest untuk pertama kalinya pada 29 Mei 1953 lalu pernah berkata dalam sela-sela pembicaraannya, “It is not the mountain we conquer, but ourselves.”

Sebuah ucapan sederhana yang menyadarkan seluruh para pendaki di dunia tentang maknanya sebuah pendakian. “Bukan gunung yang harus kita taklukkan, tapi diri kita sendiri”, kurang lebih begitulah maksudnya kalau dialih bahasakan ke Indonesia. Perihal mendaki, Dendy yang paling berpengalaman menaklukkan ganasnya alam dan telah menciptakan kenangan di beberapa gunung tinggi yang ada di Indonesia.

“It is not the mountain we conquer, but ourselves.” – Edmund Hillary

Salah satu pendakian yang paling berkesan bagi kami adalah menaklukkan diri untuk mencapai puncak Gunung Marapi. Sebuah gunung berstatus aktif yang terletak di Sumatera Barat. 1½ jam perjalanan dari rumah tak begitu terasa karena memang suasana disini berbeda dari Jakarta maupun kota lainnya di Pulau Jawa. Kemacetan tak pernah kami temukan selain di hari lebaran.

Beberapa Orang sering sekali salah terka ketika kami menyebutkan nama gunung ini, kebanyakan menganggap Marapi sama dengan Merapi yang ada di Provinsi Jawa Tengah. No! It’s totally different!
Memang secara sekilas puncaknya terlihat cukup mirip, maka kami sebut saja Marapi dan Merapi si Kembar yang terpisah.

Kegiatan pendakian di Sumatera belum seramai di Pulau Jawa. Kebanyakan gunung-gunung di Sumatera masih sepi pendakian, apalagi dihari non-weekend. Kebetulan kami melakukan pendakian ke Gunung Marapi pada saat hari kerja, agar tidak terlalu ramai dan pendakian jadi lebih terasa menenangkan.

Tepat pukul 6 pagi perjalanan dimulai. Motor CB tua yang telah diremaja menjadi kendaraan yang mengantarkan kami menuju pos pendakian Marapi. Mendaftarkan diri dan membayar simaksi seberap Rp. 10.000/ orang dan Rp. 20.000/kendaraan untuk jasa penitipan motor. Berhubung kami pergi pada hari Senin, jadi tak terlalu banyak para pendaki yang akan menaklukkan diri sendiri.

Perjalanan diawali dengan jalanan berbatu menuju pintu rimba. Sekitar 30 menit melewati perkebunan berbagai macam sayuran, akhirnya kami memasuki titik awal pendakian. Track awal belum terlalu berat, hanya beberapa tanjakan dengan akar-akar kayu besar mencuat. Ciri khas hutan rimba Sumatera langsung terasa, udara yang lembab dan pohon-pohon besar menyapa. Jalur pendakian relatif jelas dan tidak banyak persimpangan.

Setelah ±6 jam perjalanan menapaki berbagai rintangan, akhirnya kami sampai di sebuah pos menjelang cadas. Berhenti sejenak dan mendirikan tenda untuk bermalam menjadi pilihan utama kami. Pendakian menuju puncak direncakanan pukul 5 pagi untuk melihat indahnya sinar mentari yang menyinari bumi.

Namun hidup tak selalu seperti yang dikata. Rencana awal untuk mendaki ke puncak mesti kandas karena tak satupun dari kami yang terbangun. Mentari sudah meninggi dan jam ditangan menunjukkan pukul 9 pagi. Semesta memang kadang suka bercanda, kami semua hanya bisa tertawa menyaksikan rencana yang telah dibuat serta merta kandas begitu saja ketika puncak terlihat sangat dekat dari tenda.

Kesiangan menyaksikan sunrise membuat kami sedikit kurang bersemangat. Tapi inilah yang namanya hidup. Bukankah kejutan sangat menyenangkan?

Pukul 10 pagi, kamipun melakukan perjalanan balas dendam menuju puncak. Hanya ada beberapa pendaki yang kami temui karena memang sudah cukup siang. 2 jam perjalanan dan cuaca yang cerah seakan menandakan bahwa kami sudah ditakdirkan untuk menaklukkan hati kami di gunung ini.

Tepat jam 12 siang, kami akhirnya menginjakkan kaki di puncak Marapi. Luar Biasa! Sebuah kosa kata yang terlintas di kepala menjadi pertanda ketakjuban kami pada alam. Kawah besar menganga tepat di depan mata, di belakang membentang samudera awan yang mempesona.

Hamparan bebatuan hasil dari aktivitas vulkanik Gunung Marapi yang masih aktif sampai sekarang membentang dengan sangat menawan sejauh mata memandang.

Setelah puas menikmati hari di gunung yang memiliki ketinggian 2891 mdpl ini, kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Edelweis yang letaknya berada di sisi lain. Perjalanan memakan waktu sekitar setengah jam untuk menuju ke Taman Edelweis dengan track yang cukup ekstrim.

Taman ini dihiasi dengan ribuan bunga edelweis yang melegenda akan keabadiannya. Bunga ini tidak boleh dipetik. Jika kedapatan memetik bunga ini oleh petugas BKSDA, akan dikenakan sanksi yang tegas.

Perjalanan mendaki gunung Marapi di Sumatera Barat mengajarkan kami banyak hal. Perjalanan melawan keangkuhan hati, bersahabat dengan rasa frustasi menjadi kawan yang menemani. Kami bersyukur telah bisa melihat kebesaran alam semesta.


Have a nice day!
Stay tuned for more of our adventures.
Happy travel and leave no trash!


Dukung kami untuk terus berkarya dengan share cerita ini ke media sosial kamu ya.
Dan jangan lupa follow kami di Twitter @baratdaya_@ibadahmimpi, Instagram @ibadahmimpi / @redhaandikaahdi / @baratdaya_ & Facebook biar kamu gak ketinggalan cerita perjalanan unik bersama kami.


Hai, karena kamu udah disini…

..Kami punya beberapa permintaan. Beberapa orang mungkin telah membaca ibadahmimpi.com. Seperti yang kamu ketahui, melakukan perjalanan itu membutuhkan banyak waktu, uang dan usaha untuk menghasilkan sebuah karya. Kami melakukannya karena kami percaya bahwa sudut pandang kami sangat berguna bagi dunia – karena itu mungkin saja bakal menjadi sudut pandang kamu dalam memandang dunia juga.

Jika kamu suka dengan ibadahmimpi.com, mari luangkan waktu buat mendukung blog ini untuk terus berkarya dan memberikan dampak positif kepada dunia. Bantuan kecil yang kamu berikan misalnya dengan subscribe blog ini atau memberikan bantuan dana berapapun yang kamu mau akan sangat berarti buat kami – dan itu gak butuh waktu yang banyak. Salam semoga kita bersua dan berbagi cerita!

Support ibadahmimpi.com

4 Comments

  1. Hastira Hastira June 18, 2019

    wah aklau sudah sampai puncak arsa puas pasti ada ya di hati, bisa sampai puncak

    • ibadahmimpi ibadahmimpi June 18, 2019

      iyaa. puas banget dapat menyaksikan keindahan semesta dari titik tertinggi

  2. Dyah Dyah June 18, 2019

    Wah, pemandangannya keren. Gunung selalu bagus difoto dari sisi manapun juga.

    • ibadahmimpi ibadahmimpi June 18, 2019

      iyaa. ditambah dengan komposisi cuaca yang cerah jadi makin ahoy!

Leave a Reply