Press "Enter" to skip to content

CERITA PANTURA: PERJALANAN SEMARANG – LASEM NAN ADEM

Setelah perjalanan yang penuh cerita dari Pekalongan menuju Semarang lewat Jalur Pantura, kali ini #TIMPANTURA bakalan melanjutkan perjalanan menapaki Jalur Lintas Utara Jawa (Pantura) yang memiliki panjang jalur 1.341 km meliputi Serang – DKI Jakarta – Palimanan – Brebes – Pemalang – Batang – Semarang – Demak – Tuban – Surabaya – Probolinggo – Situbondo untuk kembali menemukan cerita dari tempat-tempat unik sepanjang perjalanan.

Menginap semalam di Semarang membuat energi kami terisi penuh sampai ke powerbank. Lasem yang berjarak 131 km menjadi tujuan perjalanan kali ini. Pemberhentian pertama kali ini adalah Demak, sebuah kota kecil nan penuh cerita yang berjarak 33 km dari kasur empuk di Semarang.

Pagi yang cerah dan mentari yang bersinar megah membuat perjalanan kami dimulai dengan hati yang riang. Kami siap berkelana di Jalur Pantura.

Demak menyapa, kami siap berkelana di kota nan penuh cerita. Masjid Agung Demak menjadi pemberhentian kami disini. Masjid ini menjadi salah satu masjid tertua yang ada di Indonesia. Terletak di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Masjid Demak pernah menjadi tempat berkumpulnya para wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa yang disebut dengan Walisongo.

Masjid ini bergaya khas arsitektur jawa, dengan bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru, salah satu dari tiang utama tersebut konon berasal dari serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamai saka tatal. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas Masjid terdiri dari tiga bagian yang menggambarkan Iman, Islam, dan Ihsan.

Masjid Agung Demak menyihir kami dengan segala ceritanya. Suasana yang tenang dan damai membuat masjid ini sangat nyaman untuk beribadah dan bersujud kepada yang Maha Indah.

Perjalanan mesti dilanjutkan, ada banyak cerita yang menunggu kami di sepanjang Jalur Pantura. Lasem masih berjarak 98 km, perjalanan panjang menanti kami sepanjang jalur utara ini. Kendaraan kami melaju dengan santai diterpa angin yang sepoi-sepoi sepanjang perjalanan membuat udara di dalam kendaraan menjadi adem.

Setengah jam berlalu, Kudus mulai menampakkan diri. Gerbang megah menyambut kami di ujung pandang kaca mobil. Sebuah kemegahan yang bernama Gerbang Kudus Kota Kretek menyapa dari balik kaca jendela. Pembangunan yang menelan biaya Rp 16 miliar ini sukses membuat siapapun yang melewatinya melongo, tak salah rasanya jika Gerbang Kudus Kota Kretek ini diklaim sebagai yang termegah di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.

Mobil kami melambat dan kemudian berhenti persis setelah melewati kemegahan yang menyapa ini. Semua kamera terangkat dan drone diterbangkan untuk melihat kemegahan arsitektur gerbang kota dari berbagai sudut pandang.

Perjalanan masih panjang, 72 km adalah jarak yang tertera di GPS kami untuk mencapai Lasem dari titik termegah memasuki Kudus. Tanpa banyak membuang waktu, kamipun langsung tancap gas menuju pemberhentian terakhir kami di perjalanan kali ini.

Perjalanan kali ini tak begitu terasa berat dan melelahkan, walaupun disepanjang Jalur Pantura kita juga harus berhati-hati berkendara karena banyak truk-truk besar yang lewat. Keselamatan menjadi hal yang utama selama berkendara. Tapi inilah Pantura dengan segala cerita.

Lasem, kota kecil dengan penuh pesona sudah tampak di depan mata. Dua jam perjalanan membuat kami tak sabaran untuk segera keluar dari kendaraan dan mulai mengeksplorasi keadaan. Salah satu pesona Lasem yang gak boleh dilewatkan adalah batik khas Lasem yang mempunyai motif unik dan bernilai tinggi.

Batik Lasem ini terdiri dari dua jenis; batik Lasem kuno dan batik Lasem modern. Batik Lasem kuno dibuat sekitar abad ke-20. Semua kain batik tersebut merupakan kain batik tulis dan masih menggunakan pewarna alami.  Sedangkan batik Lasem modern adalah batik Lasem yang dibuat setelah kemerdekaan Indonesia, masih mempertahankan tehnik batik tulis namun sudah menggunakan pewarna kimia.

Kami sangat beruntung bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat secara langsung proses pembuatan batik Lasem yang mendunia ini. Tangan lembut ibu-ibu dengan lincah mengguratkan ukiran di sehelai kain. Lihatlah dunia! Sebuah mahakarya akan tercipta!

Puas melihat proses pembuatan sebuah mahakarya, kamipun beranjak menuju Jl. Tarangturi tempatnya bangunan-bangunan kuno berada. Sebagai kalangan milenial, berfoto-foto sejenak sambil menyegarkan feed instagram tentu menjadi sebuah keharusan.

Dengan sedikit jepret sana-jepret sini, jadilah beberapa foto yang kami abadikan untuk menambahkan kenangan selama perjalanan.

Perjalanan takkan terasa nikmat jika kita tak menyempatkan berhenti di tempat-tempat yang kita lewati untuk sekedar menikmati indahnya hari dan bersyukur atas hidup ini.

Ada banyak cerita yang bisa kamu temui sepanjang Jalur Pantura dan yang pastinya bakalan syarat akan makna. Bagi kamu para pemudik, sudah menentukan akan mudik lewat jalur mana?

Mari bagikan momen mudikmu menjadi #TimPantura di kolom komentar ya.


Have a nice day!
Stay tuned for more of our adventures in Pantura.
Happy travel and leave no trash!


Dukung kami untuk terus berkarya dengan share cerita ini ke media sosial kamu ya.
Dan jangan lupa follow kami di Twitter @baratdaya_/ @ibadahmimpi, Instagram @ibadahmimpi / @redhaandikaahdi & Facebook biar kamu gak ketinggalan cerita perjalanan unik bersama kami.

5 Comments

  1. Bang Anton Bang Anton May 30, 2019

    Perjalanan yang cukup panjang, sayangnya lewat kota kudus hanya di gerbang nya saja. Padahal ada suasana yang cukup berbeda di sekitar menara kudus.

    • ibadahmimpi ibadahmimpi May 30, 2019

      haha. iya..
      semoga lain kali kami bisa mampir sejenak dan mengeksplorasi Kudus lebih jauh lagi bang.

Leave a Reply