fbpx Press "Enter" to skip to content

CERITA PANTURA: PEKALONGAN-SEMARANG NAN PENUH CERITA

Kali ini, perjalanan membawa kami sebagai #TIMPANTURA dari Pekalongan menuju Semarang yang berjarak sekitar 101 km melewati Jalur Pantura. Mentari yang bersinar terik dan hari yang cerah menjadi teman perjalanan kami sepanjang berkendara. Entah kenapa, kali ini perjalanan terasa lebih nikmati dari biasanya. Suguhan pemandangan, kendaraan yang berlalu lalang serta perumahan warga menjadi sesuatu yang bermakna.

Pembangunan yang berkelanjutan di Jalur Pantura telah banyak merubah wajah jalur yang membentang di utara Pulau Jawa. Jalur Lintas Utara Jawa (PANTURA) sepanjang 1.341 km yang meliputi Serang – DKI Jakarta – Palimanan – Brebes – Pemalang – Batang – Semarang – Demak – Tuban – Surabaya – Probolinggo – Situbondo ini memiliki banyak tempat kuliner dan spot-spot menarik sepanjang perjalanan. 

Kendal yang berjarak sekitar 72 km dari Pekalongan menjadi pemberhentian kami selanjutnya. Perjalanan sekitar 1,5 jam tak begitu terasa karena kami telah disihir oleh suasana di jalur yang penuh cerita ini.

“Bukan tujuan yang terpenting dari sebuah perjalanan, tapi pengalaman ketika mencapai tujuan” 

-anynomous.

Suasana yang sejuk di Rowo Bladon.

Kendal menyapa, artinya pemberhentian sudah tampak di depan mata. Kami berhenti sejenak di salah satu tempat yang lagi ngehits di Kendal, Rowo Bladon. Rowo Bladon berlokasi di tempat yang sangat asri, berlokasi di Jalan Kyai Mukhibin, Desa Purwokerto, Kecamatan Brangsong, Kendal. Suasana Rowo Bladon yang dikelilingi oleh pesawahan yang terbentang luas menjadi tempat yang cocok banget buat bersantai sejenak menikmati hari sambil menghilangkan penat dari lelahnya berkendara. Disini kita juga bisa bermain rakit dan tiduran di atas air pakai laybag. Wisata instagramable ini gak boleh banget dilewatkan bagi yang mudik lewat Kendal menuju Jawa Tengah. 

Hari sudah mulai petang saat kami melanjutkan perjalanan menuju Semarang yang berjarak sekitar 33 km. Jalur Pantura kembali menyapa kami dengan berbagai cerita. Bersantai sejenak di Rowo Bladon membuat semua keletihan kami menguap.

Mentari telah terbenam saat kami sampai di Semarang. Adzan berkumandang pertanda kewajiban sebagai seorang muslim harus kami tuntaskan. Masjid Agung Jawa Tengah yang tampak megah menarik kendaraan kami untuk menepi. Masjid megah ini berada di Jalan Gajah Raya, Gayamsari, tak jauh dari kawasan Jalur Pantura. Berhenti sejenak dan bersujud menghadap Tuhan sambil bersyukur atas perjalanan yang penuh cerita ini mesti harus dilakukan.

Masjid megah ini merupakan perpaduan dari berbagai gaya arsitektur bangunan jawa, roma dan arab. Gerbang koloseum bergaya khas Eropa yang dibaluti surat Al-Mukmin ayat 1-5 menyambut kami ketika memasuki pelataran masjid. Kemudian seketika kami di bawa terbang ke suasana Masjid Nabawi, 6 buah payung raksasa yang berdiri kokoh seakan menampakkan kemegahannya. Melewati payung raksasa, kami kembali memasuki nuansa arsitektur Jawa nan kental, berbagai ukiran khas tradisional membaluti sekujur masjid. Sungguh sebuah perpaduan yang unik.

Gerbang koloseum megah bergaya khas Eropa menyambut kami.

Masjid yang dibangun pada tahun 2001 dan diresmikan oleh Presiden RI pada tahun 2006 ini menjadi sebuah simbol religi bagi masyarakat Semarang dan Jawa Tengah. Masjid ini mampu menampung sekitar 15.000 jemaah, belum termasuk halaman utama masjid yang mampu menampung sekitar 10.000 jemaah. Tak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah saja, masjid ini juga berfungsi sebagai pusat pendidikan, pusat syiar Islam, dan wisata religi untuk para pelancong yang ingin mengagumi kemegahan arsitektur masjid.

Selain terpesona dengan desain arsitektur dan kenyamanan beribadah, kami juga terkagum dengan sebuah Al-Quran raksasa karya tangan seorang pria yang bernama H. Hayatuddin, yang merupakan penulis kaligrafi dari Universitas Sains dan Ilmu Al-Quran dari Wonosobo, Jawa Tengah.

Setelah menjalankah ibadah dan berkeliling masjid nan megah, kamipun melanjutkan perjalanan mencari kebutuhan perut yang udah minta diisi sama makanan berat sambil mengekplorasi Semarang di bulan suci ini. Ternyata Semarang memiliki banyak wisata malam yang spektakular.

Kami terhenti ketika melihat kereta lampu berwarna yang berjejer di sepanjang trotoar jalan. Tanpa pikir panjang, kami sudah duduk di dalam kereta yang menggemaskan itu. Ahoy!~

Bersepeda keliling kota sambil menikmati suasana malam setelah makan bersama sungguh seru banget cuy! 

Sepeda dengan lampu berkerlap-kerlip berjejer rapi di troroar jalan.

Perjalanan dari Pekalongan menuju Semarang lewat Jalur Pantura begitu bermakna karena suguhan pemandangan dan berbagai cerita telah menemani kami sepanjang perjalanan. Rasanya perjalanan begitu nikmat ketika kita berhenti sejenak dan menikmati hari di tempat-tempat unik sepanjang Jalur Pantura.

Ada banyak cerita yang bisa kamu temui sepanjang Jalur Pantura dan yang pastinya bakalan syarat akan makna. Bagi kamu para pemudik, sudah menentukan akan mudik lewat jalur mana?

Mari bagikan momen mudikmu menjadi #TimPantura di kolom komentar ya.


Have a nice day!
Stay tuned for more of our adventures in Pantura.
Happy travel and leave no trash!


Dukung kami untuk terus berkarya dengan share cerita ini ke media sosial kamu ya.
Dan jangan lupa follow kami di Twitter @baratdaya_/ @ibadahmimpi, Instagram @ibadahmimpi / @redhaandikaahdi & Facebook biar kamu gak ketinggalan cerita perjalanan unik bersama kami.

12 Comments

  1. Hastira Hastira May 28, 2019

    itu pohon yang berjejer , apik fotonya

  2. sabdaawalblog sabdaawalblog May 28, 2019

    asik ya sembari jalan bisa singgah lalu disuughi dengan tempat-tempat menarik, dan mesjidnya itu bagus sekali

  3. heniajaa heniajaa May 28, 2019

    dulu sih semasa blom ada jl tol baru selalu lewat jalur pantura ini, bawa kendaraan sendiri bareng suami dan anak, capek sih karena lumayan jauh apalagi tujuan saya ke Jawa Timur, dan biasanya kalo udah gak kuat mata ni, suka mampir dan bermalam di daerah Pekalongan, baru besok pagi lanjut lagi, apalagi daerah Batang tu jalannya luas dan naik turun ya, suka kangen lewat situ, dan makan sate Utami ,tapi capekk booo, jadi kl balik sekarang lewat jalan tol aja, lumayan mempersingkat waktu tempuh, cuman gak ada pemandangan yg seru yaaa kl lewat tol baru mah.

    • ibadahmimpi ibadahmimpi May 28, 2019

      iya mbak.
      Jadi pilihan mudiknya ada dua, mau cepat masuk jalan ton, mau eksplore lewat Jalur Pantura

  4. abesagara.com abesagara.com May 28, 2019

    Ini yang acaranya Kementrian PUPR bukan ya bang? #timpantura #timpansel

  5. BMCsport7 BMCsport7 May 28, 2019

    Mantep indah banget pemandangannya bikin nyaman saat mata memandang

  6. Robensa Atmenperi Robensa Atmenperi May 29, 2019

    jadi pengen kesana

Leave a Reply