Press "Enter" to skip to content

SEBUAH CERITA DI JALUR PANTURA

Gak beberapa lama lagi, bulan puasa udah mau pergi dan Hari Raya Idul Fitri udah mulai menghampiri. Berbagai persiapan untuk menyambut hari nan sucipun tak terhindari. Seperti selayaknya, mudik kembali ke pangkuan sanak family di kampung halaman masing-masing menjadi sebuah keharusan yang gak boleh terlewatkan.

Ngomongin soal mudik, Indonesia saat ini lagi gencar-gencarnya melakukan pembangunan berbagai sarana penunjang buat event tahunan ini, salah satu sektor yang paling dominan adalah pembuatan dan perawatan jalan yang bakalan dilalui oleh kendaraan nantinya. Terkhususnya bagi yang tinggal di Jawa tentu bakalan terbantu sama yang namanya tol Trans Jawa yang menghubungkan berbagai kota di pulau jawa. Waktu tempuh perjalananpun udah pasti lebih singkat dari biasanya. Namun bagi kami perjalanan gak melulu soal waktu, ada banyak hal yang harus dinikmati sepanjang perjalanan.

Bukankah perjalanan memang untuk dinikmati dan dimaknai?

Biar perjalanan mudik melintasi Pulau Jawa lebih bermakna, kamipun memilih untuk melakukan perjalan melewati jalur legendari nan penuh cerita, Jalur Pantai Utara atau yang lebih dikenal dengan sebutan Jalur Pantura yang memanjang di utara Pulau Jawa. Kami bersama kawan-kawan lain dari #TIMPANTURA bakalan melakukan perjalanan melintasi  Jalur Lintas Utara Jawa (PANTURA) sepanjang 1.341 km yang meliputi Serang – DKI Jakarta – Palimanan – Brebes – Pemalang – Batang – Semarang – Demak – Tuban – Surabaya – Probolinggo – Situbondo.

Tak lengkap rasanya jika tak berbicara masa lalu. Jalur yang membentang melewati 5 provinsi sepanjang pantai utara Jawa (Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur) ini menyimpan banyak cerita menarik yang gak boleh dilupakan. Kita bakalan kembali ke masa dimana jalur ini masih bernama Jalan Raya Pos yang namanya telah dikenang dalam catatan sejarah dunia. Jalur ini dibangun pada tahun 1808 dan terbentang sepanjang 1000 km sepanjang utara Jawa yang menghubungkan Anyer dan Panarukan kala itu dibangun dalam kurun waktu kurang lebih 1 tahun. Adalah berkat tangan besi seorang Gubernur Hindia-Belanda yang bernama Herman Willem Daendels berada dibalik terciptanya jalur ini. Tak tanggung-tanggung, ±12.000 nyawa menjadi harga yang harus dibayar untuk mewujudkan impian seorang Daendels menaklukkan Pulau Jawa. Jalur ini kemudian diberi nama De Grote Postweg dan dikenang sebagai Jalan Raya Pos oleh bangsa Indonesia.

Jalan Raya Pos menjelma menjadi sebuah Jalur Pantai Utara Pulau Jawa nan mempesona. Jalan Raya Pos akan dikenang sebagai sejarah bangsa yang perlu dimaknai keberadaannya. Sekarang, berbagai pembangunanpun tercipta untuk kemajuan bangsa dan peningkatan kehidupan masyarakat yang mendiaminya. Jalur Pantura adalah wajah yang penuh cerita. Puluhan ribu kendaraan lewat setiap hari menjadi saksi betapa pentingnya jalur ini.

Seiring berjalannya waktu, Jalur Pantura menjelma menjadi wajah baru nan penuh cerita. Ada banyak kuliner dan spot-spot menarik yang bisa kamu kunjungi sepanjang jalur ini lho! 

Perjalanan #TIMPANTURA melewati jalur utara bersama hembusan angin Laut Jawa terasa lebih bermakna karena banyak tempat-tempat unik yang bisa dijelajahi. Berbagai tempat mulai dari pantai hingga hutan dapat ditemui disepanjang Jalur Pantura. 

Ada banyak cerita yang bisa kamu temui sepanjang Jalur Pantura dan yang pastinya bakalan syarat akan makna. Bagi kamu para pemudik, sudahkah menentukan akan mudik lewat jalur mana?

Mari bagikan momen mudikmu menjadi #TimPantura di kolom komentar ya.


Have a nice day!
Stay tuned for more of our adventures in Pantura.
Happy travel and leave no trash!


Dukung kami untuk terus berkarya dengan share cerita ini ke media sosial kamu ya.
Dan jangan lupa follow kami di Twitter @baratdaya_/ @ibadahmimpi, Instagram @ibadahmimpi / @redhaandikaahdi & Facebook biar kamu gak ketinggalan cerita perjalanan unik bersama kami.

 

4 Comments

  1. Daruma Daruma May 29, 2019

    cerita mudik lebaran itu selalu jadi headline jangan sampai ketinggalan. hehehe
    aku juga mau mudik dan pasti selalu cerita soal mudik dan kemacetan selama diperjalanan. capek sih tapi asyik. udah lama gak lewat pantura kalo mudik tapi banyak banget kisah mudik zaman dulu di pantura. wkwkwk dari mulai bis yang ugal-ugalan lah dan pengamen pantura yang aduhai.

Leave a Reply