Press "Enter" to skip to content

SIAPA YANG MEMULAI HARUS BERANI MENGAKHIRI

Setelah terbangun tadi pagi, saya langsung merenung memikirkan diri. Percakapan semalam bersama kawan-kawan yang sudah lama tak bersua menyingkap sebuah pemikiran tentang hidup di dalam benak saya. Sebuah pertanyaan tentang bagaimana menyikapi hidup yang hanya sekali menjadi sebuah kecamuk di dalam diri. Saya adalah penganut Islam yang belum taat, namun mengimani bahwa hidup di dunia ini memang sekali tanpa kompromi.

Pikiran membawa saya kembali ke tahun 2013, tepat di hari yang sama saya menentukan pilihan untuk menjadi mahasiswa. Awalnya semua tampak biasa dan berjalan apa adanya. Namun hidup tak selalu sesuai yang dikata. Perjalanan membawa saya terlarut dalam kemerosotan jiwa yang berleha-leha. Sewajarnya empat tahun adalah waktu yang cukup untuk sekedar menambah nama menjadi seorang sarjana, tapi tidak bagi saya.

Tahun ini, 2019, saya masih berkutat dengan skripsi yang menjadi momok tersendiri bagi para pencari jati diri. Sebuah kegoblokan yang hakiki tersemat di dalam diri. Enam tahun adalah waktu yang saya habiskan untuk sekedar terhanyut dalam kemaksiatan hati dan kemalasan diri. Semua terjadi tak terkendali. Terhitung sudah dua tahun saya habiskan dengan tanpa melakukan hal yang berguna.

Percakapan semalam telah membuat sesuatu dalam diri saya berkecamuk dan meronta untuk dibebaskan. Sebuah pertanyaan tentang “siapa saya?” muncul kembali setelah sekian lama terkubur dalam kemalasan diri. Umur 24 adalah waktu yang sudah terlambat untuk sekedar terlarut dalam keremajaan namun belum terlambat untuk mencari kedewasaan.

Sebuah keputusan harus diambil. Belum terlambat untuk kembali menyusun skenario dan menjadi seorang sutradara diri. Sebuah perjalanan harus dilakukan. Sebuah kepercayaan harus ditegakkan kembali di dalam hati. Sebuah dunia harus dijelajahi. Sekumpulan revisi harus segera dituntaskan untuk mencari jati diri.

Sebuah wisuda harus diwujudkan di tahun 2019!

 

4 Comments

  1. Uyo Yahya Uyo Yahya May 24, 2019

    TIdak ada yang terlambat. Saat di Jakarta pukul 12 siang, di Berlin masih jam 6 pagi misalnya. Namun bukan berarti salah satunya telat. Memang sudah seperti itu time zonenya. Tetap fokus di time zone-mu ya! Semangat skripsinya! Apalagi saya umur 26 baru lulus lho.

  2. Muhammad Candra Muhammad Candra May 25, 2019

    Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.Terus berusaha kejar tujuan gan, Kita semua pengen jadi “seseorang” bukan cuma jadi orang rata-rata, prosesnya adalah usaha Dan belajar.

    Salam kenal Dari blog Saya gan mcandrawijaya.blogspot.com

Leave a Reply