Press "Enter" to skip to content

MEONG!

Terbilang sudah lima hari berturut – turut yang ia lewatkan dengan perasaan gelisah. Roman selalu bergerak – gerak tak karuan seperti cacing kepanasan oleh teriknya panas matahari di siang bolong di atas kasur bongsornya.

Berbagai posisi ia coba,  mulai dari menengadah menatap loteng, tengkurap, membalikkan posisi badan ke kiri, kemudian ke kanan, kaki ke atas, kepala ke bawah, bahkan aku tak tahu mana kepalanya lagi. Memakai selimut, tanpa selimut, bahkan sampai melepaskan pakaian semua sama saja. Tak ada posisi yang mampu membuatnya nyaman untuk tidur. Insomnia bahasa ilmiahnya.

Meong, kucing kampung berwarna kuning kehitam – hitaman yang awalnya kuning cerah akibat sering berguling – guling di atas lantai yang jarang disapu melompat ke atas kasur tuannya. Gelisah tak bisa tidur akibat sudah beberapa hari ini datangnya kucing baru yang berwarna putih dengan bulu – bulu yang tebal. Rumahnya selalu dikerumuni belasan kucing – kucing berbagai bentuk saat suatu ketika aku berjalan melewati rumah itu. yang akhir – akhir ini aku tahu bahwa jenis kelamin kucing itu betina. Amboi, pujaan kampung juga kucing baru itu, primadona yang mampu membuat belasan kucing mengeong hanya untuk menunjukkan eksistensi kejantanan mereka.

Meong sama saja dengan tuannya, Roman, gelisah akibat rasa tak menentu dari spesies beda kelamin. Suatu bentuk gejolak beberapa zat cair di dalam tubuh yang tak bisa diredam dengan cara apapun. Bahkan malam mengerjai sepasang tuan dan peliharaan itu.

Tidur bukan hal yang mudah akhir – akhir ini. Tak pernah sekalipun ku lihat si Roman tidur mendahului pukul dua belas malam. Paling cepat ia tidur jam dua belas lewat satu menit. Adalah gadis primadona desa juga yang menyita perhatian Roman akhir – akhir ini. Perempuan cantik nan elegan yang baru pulang dari luar negeri setelah menamatkan pendidikan magister di negeri sepakbola, Inggris. Perempuan cantik dibalut indahnya jilbab dan pakaian muslimah, bukti kemenangan tertinggi seorang perempuan atas nafsu dunianya, membuatnya tak bisa disentuk barang cuma tersenggol ketika berjalan oleh kaum lelaki.

Sebuah bentuk eksistensi mutiara mulia yang tak boleh sekalipun dihinggapi sebutir debu. Kokoh, cantik, sempurna, menawan, indah, pujaan hati ketika memandang, tapi terlindungi. Ditambah dengan pemberian nama indah, Claudia Fitri Ayu. Amboi, sedikit aksen kebarat – baratan menambah gemerlapnya mutiara yang dititipkan oleh Allah SWT sebagai bentuk kebesaran ciptaannya agar manusia mampu menyebut Subhanallah ketika memandang. Lengkap sudah sebuah permata beserta nama yang selalu menjadi primadona diam – diam pemuda kampung ini.

Diam – diam? Benar kawan, ku katakan diam – diam karna memang demikian. Tak ada seorang pemuda pun yang berani merayu ataupun sekadar bergaya – gaya menyibakkan rambut klimis yang sedang ngetren di zaman sekarang didekat permata pujaan itu. adalah Pak Haji Somat, imam mesjid yang paling tersohor sentaro kampung, bahkan sekabupaten dan sekota tahu siapa beliau. Seorang pengurus besar perkumpulan mesjid yang paling disegani khayalak umum, juragan minyak yang memiliki puluhan mobil terparkir di rumahnya.

Jika orang – orang kampung ingin melihat rumah mewah bak sinetron – sinetron di tv, tak perlu jauh – jauh ke kota, cukup datang saja ke rumah beliau, akan terasa seperti syuting flm sinetron langsung, dan orang yang masuk akan berperan sebagai seorang pembantu. Pak Haji Somat adalah kepala di rumah sinetron itu, seorang sosok ayah yang tak bisa dinego kalau bersangkut paut dengan anak semata wayangnya, sang primadona penunduk pemuda desa. Sekali berhadapan dengan Pak Haji Somat, orang akan merasa terintimidasi dengan pembawaannya yang elegan dan berwibawa, seperti karyawan bertemu dengan manager puncak perusahaannya, was – was jika nanti salah sedikit, dipecat tentu tantangannya.

Si Meong, kucing yang kehilangan kewibawaannya semenjak semua tikus mengundurkan diri dari rumah si Roman, bahasa gaulnya, postpower syndrome. Ternyata kumpulan tikus yang bergentayangan kian kemari dulu itu menjadi sumber kewibawaan Meong, bentuk tertinggi dari suatu kekuasaan atas penindasan terhadap dunia tikus yang membuatnya menjadi penarik hati paling ulung sentaro kampung sebab selalu mengantarkan tikus – tikus yang habis dijatuhi hukuman mati ke betina – betina yang berkeliaran di  atap – atap rumah kampung. Menjadikannya playboy di kalangan kucing – kucing kampung, panutan. Si Boy, teman dekat si Roman, rupanya menyebarkan berita tak benar di kedai kopi, bahwa tikus – tikus itu pergi lantaran si Roman selalu terlihat gelisah sepanjang hari dan takut kalau – kalau nanti stres bisa menjalar ke mereka para tikus dapur.

Ternyata, kucing pujaan primadona belasan kucing – kucing kampung itu juga tinggal di rumah besar itu. Terlahir dari ras yang dinamakan Persia, baru saja berpindah dari kotak kaca toko peliharaan menuju singgasana baru dipangkuan tuannya yang tampak elegan, Claudia. Kucing itu selalu berjalan seperti pemain bowling yang baru saja melempar bola dan menjatuhkan semua sasaran, berkelas. Sebuah bentuk tamparan perbedaan kelas terhadap Meong dan tuannya, Roman.

Malam semakin menjadi – jadi, Roman bergumam – gumam masih bergerak kian kemari mencari jalan menuju dunia mimpinya. Meong gelisah berputar – putar bolak – balik memperhatikan majikannya yang semakin gelisah setiap waktu mulai berdetak.




2 Comments

  1. Dongengtravel Dongengtravel January 17, 2019

    hahahaha.. selalu pengen bisa nih bikin konten bahasanya puitis kaya gini. Mau tanya dong, bikin satu artikel kaya begini lama gak sih? *orangnya males berkata-kata puitis soalnyad

    • ibadahmimpi ibadahmimpi January 17, 2019

      tergantung mood sih mas bro.
      Oh iya, banyakin baca buku novel atau puisi mas bro, ntar kebawa gitu pas nulis.. Jadi lebih mudah

Leave a Reply