• photo by ibadahmimpi.com
    SAJAK

    Teori Tentang Kopi dan Hati

    Katamu teori-teori tentang kopiku teramat rumit bagimu. Entah kau sedang berpura-pura tidak memahami, atau kau memang ingin memberi kesempatan aku untuk menjelaskannya lagi. Tapi kau salah, ada satu hal lagi yang sebenarnya jauh lebih rumit dari itu, dari serangkaian teori-teori itu, yaitu rasaku. Rasaku yang lebih rumit dari apa yang aku pikirkan, lebih dalam dari apa yang aku harapkan, lebih indah dari sekedar ekspektasiku. Tapi juga lebih mematikan dari hatiku yang dulu pernah patah dan dipatahkan. Kau yang datang ditengah kemelut, jangan pergi meninggalkan kusut. Tatkala ketidaksengajaan mempertemukan, kuharap berujung pada kesempatan. Aku memilih untuk menyeduhkan secangkir kopi untukmu, lalu aku mulai  bercerita tentang makna dari rasanya, juga sedikit aku…

  • photo by Furqan Nursalam
    SAJAK

    Perihal Puan

      “ Malam ini ada empat perihal yang akan aku utarakan duhai puan. Kuharap kau mau mendengarkan celotehan malamku ini dengan seksama. Sebelum itu seruputlah kopi hitam kesukaanmu itu, kuseduhkan hangat-hangat. Perihal pertama ialah perihal rasa, mungkin bagimu rasa ini tampak biasa. Mungkin bagimu aku tanpa rasa. Bahkan mungkin bisa engkau kata tak ada sama sekali. Aaah, namun kau salah puan. Bertahun-tahun sudah rasa ini kupupuk dalam diam, sendirian. Kalau berkilah pasal niat, maka masuklah kita pada perihal kedua. Perihal kedua ialah perihal niat. Sungguh! niatku sungguh tulus ingin menjagamu dalam pagar rasa yang selama ini kubuat. Andai kau tau, sungguh niatku adalah mengupayakan kebahagiaanmu. Namun apalah dayaku, kau masih…

  • Photo by ibadahmimpi.com
    SAJAK

    Pergilah

      “ Bagaimana jika setiap temu hanya berujung haru? Pada sebuah cerita yang bermuara luka, tawa tak lagi berharga. Kita tak lagi layak saling bicara, jika hanya untuk memperdebatkan siapa yang tak berdosa. Pergilah. Carilah sebuah kota yang sudi menampung semua tuntutmu, jangan disini. Aku hanyalah desa yang hanya sanggup menampung semua resahmu. Tapi tak cukup mampu memenuhi semua maumu. Tapi jika kelak rindu membawamu kembali, jangan sungkan untuk menyapa lagi. Senyumku masih akan tetap sama untukmu, sesumringah saat pertama aku menatap matamu. “  Ditulis oleh Dendy Selmaeza atau lebih dikenal di dunia instagram dengan nama @baratdaya_. Penulis bisa ditemui di instagram @baratdaya_, twitter @baratdaya_, dan blognya di www.dibaratdaya.com. Satu lagi, Dendy juga adalah adik kandung…

  • photo by ibadahmimpi.com
    SAJAK

    Bagaimana Kau, Kita dan Aku Kesudahannya

      “ Kau adalah pilihan kata acap yang tak sempat terucap. Berpikir awalnya akan menetap mantap namun nyatanya hanya sekedar basa basi yang terlambat kutangkap. Kau adalah tuan yang inginkan hati puannya tinggal. Padahal dirinya sendiri sering pergi terlalu pagi lalu pulangnya sering salah tanggal, tidak jarang salah arah dan gagal.   Kau… Yang kadang bising dalam asing. Sering membangun obrolan denganku namun tidak berselera dan setelah itu kita hening.   Kita… Hambar sebelum saling tawar menawar. Terlalu cepat basinya padahal belum sempat menghangatkan tungku.   Aku… Semacam do’a yang tak tepat sasarannya. Sembahyang meminta yang dimau bukan yang perlu. Hingga membuat kau tertahan, dan aku pun tak mendapati keduanya.…

  • photo by ibadahmimpi.com
    SAJAK

    Dilamun Ombak

      “ Puan, kopi kesukaanmu telah kuseduhkan. Nikmatilah! Sembari kau nikmati, bolehkan aku duhai puan menyelingi jamuan kopimu dengan sebuah obrolan? Jika engkau tak mengizinkan, maka tidak jadi masalah. Karna mungkin segala apa yang nanti terucap akan menambah rasa asam pahit di arabica-mu puan. Namun jika itu tak jadi masalah untukmu, maka nikmatilah jua segala rasa pahit dalam jamuan kopimu ini. Kita telah berlayar beribu hari lamanya, terombang ambing di tengah samudera. Tak jarang sampan kita hampir dibalikkan gelombang.   Ribuan hari lamanya kita dilamun-lamun ombak. Dalam sibukku menahkodai sampan ini, tanpa sadar ternyata engkau telah menemukan tanah tepi di ufuk timur sana. Kita bersorak sorai karena labuhan sampan hampir…

  • photo by @kumiskuucing
    SAJAK

    Kita Pada Rumah

      “ Kita selama ini hanya ‘suka’ bertindak kepada apa yang tampak. Berjuang mencari apa yang hilang. Menangis sejadi-jadinya terhadap apa yang tidak pulang. Ingin mengulang apa yang sempat berakhir. Masih saja berusaha melengkapi apa yang ganjil. Ingin melampaui batas dan tidak pernah berucap puas. Kita lupa mensyukuri apa yang sudah dimiliki. Lupa berterima kasih kepada apa yang masih bertahan dan tidak pergi. Lupa bahwa waktu diberikan tidak melulu bagi langkah pencari.   Maka dari itu, Pulanglah… Hangatkan ruang tengah rumah. Pulanglah pada rumah; pelukan yang paling ramah penampung lelah. “ ditulis oleh Gemi Nastiti– Silahkan mampir ke instagram @kumiskuucing untuk mengenal penulis lebih dekat.         Support…

  • www.pexels.com
    SAJAK

    Cinta Dalam Semangkok Mie

      “ Pada kenyataannya kita hanyalah sedang menahan diri. Menampakkan apa saja yang pantas tanpa peduli apa yang ada di hati.   Berharap perasaan bisa tumbuh lagi sementara hati sudah lebih dahulu pergi. Memastikan berkali-kali apa masih bisa diperbaiki daripada nanti harus menyesali.   Tapi nyatanya ini bukanlah penyelesaian yang benar-benar menyelesaikan. Kita baru saja membatasi kenyataan, menyembunyikannya dengan rapi di setiap tepi.   Kenyataan bahwa bertahan dan memaklumi tidak selalu menjadi langkah dewasa untuk menemukan ketenangan.   Benar kata ibu, tidak baik menahan terlalu lama, nanti kau tak tahan. Nanti pundak ibu jua yang kau cari, menangis tersedu, kasih ayah jua yang tak terbanding setiap kali hati kau patah.…

  • Photo by www.ibadahmimpi.com
    SAJAK

    Tepat Setelah Perpisahan

    “ Tepat setelah perpisahan kau menjadi satu-satunya yang kurindukan. Di tempat pertama kita bertegur sapa wajahmu menjadi sebuah nestapa. Menolak dimenangkan menjadi sebuah kehampaan.   Lihatlah! Setelah semua berlalu aku masih saja menyeduh pilu. Secangkir patah hati menjadi minuman setiap hari. Menunggu hujan reda namun kau tak kunjung tiba. “

  • photo by @kumiskucing
    SAJAK

    Ge!

    “ Kau bisa menyapaku sekali lagi, memegangi pundakku, dan aku akan menoleh ke belakang. Akan kusambut kau yang ingin datang lagi, tapi bukan sebagai kekasih. Mari duduk di terasku namun tidak memasuki pintu depan rumahku, karena aku tak pernah menunggumu. Mari saling berbicara, aku kini sangat terbuka. Mengkaji ulang perpisahan kita namun tidak untuk menyambungnya. Mari segera ikhlaskan kepergian kita satu sama lain.  

  • SAJAK

    Rindu?

    Aku tak pernah menyangka waktu telah mempersiapkan kejutan yang tak bisa kukira – kira. Pada setiap malam yang kulalui dalam dera. Pada setiap rindu yang berujung percuma. Waktu membawaku pada sebuah teduh yang tak dapat kuterka. Memang waktu telah mengerjaiku dalam masa yang begitu lama. Aku tahu, waktu memang selalu merayu. Segenap hatiku merasakan teduh yang datang tak disangka – sangka. Pada setiap derai – derai daun yang diterpa angin, aku merasakan rindu mulai membelai lembut dengan bayangan yang diam – diam membumbung. Bukan, ini bukan tentang nonaku. Nonaku sudah dibawa pergi bersama waktu, ia ku ikhlaskan dalam setiap temu yang akan berlalu. Waktu menyelipkan rindu baru pada anganku malam…