Press "Enter" to skip to content

TIGA DINI HARI

Tiga dini hari.

Ya, puncak dimana rindu tengah menggebu-gebu,
atau puncak dimana sepi yang datang bertamu.

Ada hal yang lucu perihal sepi dan rindu.
Sebagian orang mungkin sudah tahu,
sebagiannya lagi mungkin tak mau tahu.

Rindu ada sebab yang pergi akan kembali pulang,
sepi ada sebab yang pulang telah pergi menghilang.

Tiga dini hari.

Ya, puncak dimana waktu sedang nikmat-nikmatnya makan indomie,
atau puncak dimana pertanyaan-pertanyaan yang tak berkesudahan perlahan datang menghampiri.

Bukan untuk mendapat jawaban,
tetapi malah kembali dipertanyakan.
Kadang berujung kesal,
dan kadang berujung sesal.

Aku yang datang dalam siap,
dia tinggalkan tanpa sebab.
Aku yang menggantung tali harap,
dia potong dalam sekejap.

Semisal hadirku menjadi satu-satunya keluhmu,
maka aku rela pergi menjauh dari hari-harimu.

Meski aku tahu ruang ini sangat luas untuk dihuni,
tapi kenapa sesak yang datang mengisi.
Meski aku tahu tidak ada sekat yang memisahkan,
tapi kenapa sulit untuk dipertemukan.

Kadang aku kesal dengan cara kerja semesta,
sesaat dia mendatangkan penawar luka,
sesaat itu pula dia lupa cara mengobatinya.

Tiga dini hari.


Ditulis oleh Rake Gala Matahari, seorang mahasiswa Jurusan Psikologi, Universitas Negeri Padang yang sedang mencari pasangan hidup. Penulis dapat ditemui di instagram @mrakegala, twitter @mrakegala, dan blognya di www.mrakegala.wordpress.com


Support us with share this post to your social media.

And Don’t forget to follow us on Twitter @ibadahmimpi, instagram @ibadahmimpi / @redhaandikaahdi & like us on Facebook.

6 Comments

  1. AM AM March 7, 2019

    Sajaknha Bagus Gan. Semoga penulisnya cepat dapat jodoh Gan.

  2. kutukamus kutukamus March 7, 2019

    Mungkin memang begitu mau Semesta
    Cuma sedia sakit dan sembuh
    Tapi soal apa, kenapa dan sebagainya
    Itu terserah kita 🙂

Leave a Reply