Press "Enter" to skip to content

SEPENINGGALMU

Hai, apa kabar?

Aku harap kamu membaca tulisan ini. Kamu yang aku kira dulu adalah sebuah labuhan. Kamu yang aku kira dulu adalah sebuah jawaban dari pertanyaan. Kamu yang aku kira dulu adalah sebuah akhir dari perjalanan.

Tapi ternyata, sepeninggalmu.

Kemudian hari Aku sadar.

Bahwa belum ada labuhan yang pantas untuk sebuah perahu reok. Samudramu terlalu luas menuju labuhan. Perahu reok ini harus berproses dulu menjadi sebuah kapal yang gagah. Sebuah kapal penakluk gelombang di samudera luasmu.

Dan juga, tanyaku yang belum menemui jawaban. Harus membaca lebih banyak bintang lagi, harus bertanya kepada setiap rembulan lagi, harus memahami makna dari ribuan malam lagi. Tanyaku yang belum kunjung terjawab.

Ternyata juga, jalanku masih sangat panjang. Aku harus menghela lebih banyak nafas lagi untuk ribuan mil perjalanan. Untuk melangkah dari hati ke hati. Untuk belajar melepaskan.

Sepeninggalmu, aku sadar.

Bahwa tak ada jarak yang tak kurang ajar. Jarak yang aku kira dulu hanya sebuah angka, ternyata menjelma menjadi sebuah tembok, lalu menjadi rintangan, setelah itu menjadi halangan, dan kemudian menjadi terlupakan.

Aku tidak benci jarak, awalnya. Karena jarak, aku merasakan rindu yang tak dapat di hitung. Karena jarak, aku merasakan arti dari pertemuan singkat.

Tapi Akhirnya, jarak juga yang menghitung waktu sepeninggalmu.


Ditulis oleh Dendy Selmaeza atau lebih dikenal di dunia instagram dengan nama @baratdaya_. Penulis bisa ditemui di instagram @baratdaya_twitter @baratdaya_, dan blognya di www.dibaratdaya.com.

Satu lagi, Dendy juga adalah adik kandung dari President of www.ibadahmimpi.com.


Support us with share this post to your social media.

And Don’t forget to follow us on Twitter @ibadahmimpi &instagram @ibadahmimpi / @redhaandikaahdi


Baca juga: Kamu


 

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Mission News Theme by Compete Themes.