Press "Enter" to skip to content

PEREMPUAN PEMBENCI PAGI

Ia selalu benci dengan pagi.

Ia memang tak pernah suka mengangkat

kedua buah kelopak matanya memandang cakrawala.

 

Ia sekarang mati. Ia ingat betul semalam ia merasa sangat hidup, seperti tiada lagi hidup.

Dengan berat hati, ia mengangkat pikirannya dari pulau kapuk. Di luar hujan cukup deras. Ia langsung teringat salah satu sajak Sapardi, Hujan Bulan Juni. Ia ingin sekali menjadi pohon berbunga dalam sajak itu.

“…tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni

dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu…”

 

Kemudian ia teringat kepada seorang lelaki yang selalu mengirimkannya sajak setiap malam lewat seekor burung merpati. Tepat pukul delapan malam, merpati itu akan hinggap di jendela rumahnya dan mengetuk jendela mungilnya.

Pada suatu malam, merpati itu tak pernah muncul. Ia gelisah. Jangan-jangan merpati itu hinggap di rumah orang lain, pikirnya. Dua jam berlalu, ia masih menunggu. Jendela mungilnya masih tetap sunyi. Ia semakin gelisah. Ia buka jendela mungilnya, seketika rintik-rintik hujan mulai turun di atas rambutnya yang hitam. Suara-suara ular mulai terdengar di dalam kepalanya. Ia merasa geli.

Air tuhan mulai jatuh ke tempat peraduan. Angin tak mau kalah. Ia teringat kejadian di televisi akhir-akhir ini. Jangan-jangan bencana akan datang dan sekonyong-konyong rumahnya melayang. Tak lama berselang, merpati yang ditunggu datang membawa secarik kertas di kaki kanannya. Warnanya agak kecoklatan. Merpati itu pasti telah kehilangan surat itu di suatu tempat sehingga terlambat datang.

Sesampainya di jendela mungilnya, merpati mengetuk-ngetuk kaca jendela seperti biasa walaupun sebenarnya jendela itu memang terbuka. Ia membiarkan merpati itu menyelesaikan tugasnya. Ia membayangkan puisi yang paling romantis yang mungkin saja bisa dibuat oleh seorang lelaki kepadanya sehingga ia tak perlu lagi harus menyembelih merpati yang mengantarkan sajak itu.

Dengan perasaan senang tak tertahankan, ia membuka surat itu. Warnanya coklat, ini pasti spesial, katanya.

Seketika surat dibuka, jantungnya mulai merasa harus berdetak kencang seperti tiada lagi detak yang paling kencang. Badannya panas. Sorot matanya memandang merpati yang sedang asyik makan roti di sudut jendela mungilnya. Dengan geram ia meremas merpati itu kemudian menyembelihnya di depan jendela mungilnya.

Dengan gemetar ia melempar surat itu ke dalam perapian. Pikirannya mulai melayang. Ia ingin tidur saja malam ini, menemui lelaki itu di dalam mimpinya.

Sebelum tidur, ia berucap. Asu!


Support us with share this post to your social media.

And Don’t forget to follow us on Twitter @ibadahmimpi, instagram @ibadahmimpi / @redhaandikaahdi & like us on Facebook.

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Mission News Theme by Compete Themes.