Press "Enter" to skip to content

CERITA SAYA

Hari sudah menunjukkan pukul 5 sore.

Angin barat mulai berhembus pertanda senja sudah

mulai berbenah menampakkan dirinya pada para perindu.

Di kaki khatulistiwa, di batas samudera,

seorang pria berdiri di sepanjang garis pantai.

Udara masih saja lembap dan basah serta pasir-pasir masih saja hangat ketika kumasukkan jari-jari kakiku sembari memikirkan apakah hidupku telah gagal?. Di sebelahku telah berdiri seorang lelaki yang tak tahu darimana datangnya begitu saja menatap lurus ke arah kaki langit. Ia hanya terdiam. Pandangannya kosong.

Sinar matahari yang mulai menguap menyinari rambutnya yang tampak kecoklatan. Lelaki itu juga memiliki mata yang coklat. Matanya tetap saja kosong!

Aku sebenarnya ingin bertanya tetapi waktu begitu saja terdiam. Bahkan burung-burung yang terbang di cakrawala pun mendadak berhenti dan tergantung begitu saja di langit tanpa terjatuh. Awan-awan menjadi tempelan busa-busa di langit. Semuanya terdiam. Aku heran, apakah semesta juga sudah merasa dirinya gagal pada saat itu?

Lelaki itu masih saja berdiri disampingku dengan tatapan yang tidak memancarkan kebahagiaan. Bongkahan bola api raksasa mulai bergetar melawan waktu tetapi ia tak bisa mengalahkan waktu. Sehingga matahari itu tergantung-gantung di kaki langit sembari memancarkan warna yang mulai menyilaukan.

Tak berapa lama, lelaki itu menoleh padaku. Sudut-sudut matanya mulai tergenang. Hujan menetes di kedua pipinya.

“Apakah hidupku sudah gagal?”


Support saya dengan share cerita ini ke sosial media kamu ya.

Don’t forget to follow us on Twitter @ibadahmimpi & instagram @ibadahmimpi


Baca juga: Kepada Wanita yang Disebut Nona

2 Comments

  1. Fikri Haykal Fikri Haykal December 29, 2018

    Mantap gan…
    jangan lupa kunbal nya di welcome-id.blogspot.com

Leave a Reply

Mission News Theme by Compete Themes.