Press "Enter" to skip to content

MENCARI KEDAMAIAN DI GUNUNG SAGO

Makin hari rasanya dunia yang saya tempatin ini makin membuat stres. Mulai dari skripsi yang gak jelas masa depannya, si doi yang keduluan dipinang orang lain, sampai duit dikantong yang udah menghilang gak tau rimbanya!. Banyaknya problematika hidup yang datang tak diundang pulang tak diantar kayak jelangkung keselek buah kedondong membuat saya mulai pesimis dalam menjalani hidup. Sepertinya saya butuh yang namanya menepi untuk menenangkan hati dan mengisi kembali motivasi yang udah minggat ngeliat coretan skripsi!

Sebagai seorang anak kampung yang tinggal di bawah kaki gunung, saya merasa bersalah karena belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di puncak sebuah gunung yang telah menemani saya dari lahir sampai sebesar ini. Kebetulan momen yang ditunggu itu akhirnya datang juga. Salah seorang kawan saya yang baru pulang dari Bandung mengajak kami untuk menghabiskan hari barang semalam di atas gunung belakang rumah kami, Gunung Sago. Termasuk sebagai gunung yang tidak aktif (mudah-mudahan gak aktif!) yang terletak di Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kecamatan Luak, dan Kecamatan Situjuah Limo Nagari yang merupakan bagian dari kawasan Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Karena saya tinggal di Kecamatan Luak dan tepat dibawah kaki Gunung Sago dan juga kampung saya merupakan jalur pendakian, sangat disayangkan rasanya jika saya dan kawan-kawan tak pernah sekalipun menapakkan kaki di gunung yang telah mengajarkan kami bagaimana caranya menjadi Bolang sejati yang lebih sejati dari Bolang di dalam tipi!

Perjalanan kami mulai jam 10 pagi, rencana awalnya hanya berlima orang yang bakalan nanjak naik ke puncak gunung. Gak tau kenapa, setelah kami sampai di pintu masuk menuju rimba, sudah ada 10 orang yang nungguin kami kayak Genji mau nyerang Serizawa!

Desas-desus cepat berkembang di kampung kecil saya, ternyata ketampanan dan elektabilitas saya di kampung mendatangkan minat para pemuda dan anak-anak lainnya untuk ikut mendaki dan menikmati hari bersama kami. (Hah!). Yaudah! Bagi saya, semakin rame semakin asyik biar ada yang disuruh-suruh bawain jerigen air dari bawah!

Pendakian untuk mendaki Gunung Sago yang memiliki ketinggian 2.271 mdpl kami lakukan dengan selow, tetap selow, sangat selow, santai…santai… jodoh gak akan kemana!

Setelah 5 jam perjalanan mendaki trek yang menanjak hampir 45 derjat sepanjang perjalanan, kami akhirnya sampai di puncak pada jam 3 sore. Entah karena saya yang udik atau pemuda kampung kami yang terlalu semangat, langsung aja para pemuda tanpa pandang bulu berhamburan mencari kayu bakar. Bahkan ada yang motong pohon gede pakai ladiang (parang) yang bergelantungan di sekitar pinggangnya (jangan salah fokus cuy!).

Hasil jarahan begal pohon!

Tak ingin membuang-buang waktu, kami akhirnya mendirikan tenda untuk keberlangsungan hidup di alam liar. Adik saya yang notabene telah malang-melintang di dunia traveling dan hiking mendapatkan mandat terhormat untuk mendirikan tenda yang telah digendongnya dari awal pendakian.

Walaupun Gunung Sago bukan merupakan gunung idaman para pendaki di Sumbar, tapi kami sangat menikmati keindahan alam yang disuguhkan dan ketenangan yang tiada tara, karena memang gak ada pendaki disini!. Suara alamnya begitu menenangkan dan gak tau kenapa saya seperti mau terbang seperti penguin!

Sisa hari kami habiskan dengan bercengkrama dan kebetulan salah seorang kawan saya membawa gitar, jadinya kami melepaskan semua kepenatan dunia dan menjadi manusia rimba sambil bernyanyi sayur kol! Saya merasa seakan semua kemelut yang memenuhi otak saya menguap begitu saja. Sungguh melegakan!

Saat sang mentari pamit, saya menemukan sebuah keindahan alam yang sangat memukau! Sunset di tanah anarki! Mantap kali cuy!. Jadi inikah alasan kenapa para pendaki mau mengejar sunset di puncak gunung?

Malam harinya kami menikmati hari dengan bercanda gurau, berbincang-bincang tentang masa kecil yang sering kami habiskan di bawah kaki Gunung Sago ini dan diakhiri dengan bermain gitar hingga shubuh menjelang.

Dan inilah momen yang saya tunggu-tunggu dari matahari pamit sore hari sampai datang menyapa kembali, sunrise!. Menikmati indahnya hari baru di puncak tertinggi kampung halaman saya bersama kawan-kawan lama sambil mensyukuri betapa indahnya hidup ini. Saya gak bisa melukiskannya dengan kata-kata. Semua beban menjadi sirna seiring cerahnya matahari menyapa saya di pagi hari!.

Terlena dengan keindahan sunrise di puncak Gunung Sago, kami seketika terdiam disihir betapa indahnya alam Indonesia ini.

Setelah dirasa cukup untuk menikmati dan menenangkan diri di puncak Gunung Sago, sekitar jam 9 pagi kami bersiap untuk turun kembali ke kampung halaman yang berada di kaki gunung.

Cerita tak hanya berhenti sampai disini. Salah seorang pemuda kampung mengajak kami untuk berhenti sejenak sambil membersihkan diri di salah satu air terjun tersembunyi yang ada di kaki gunung. Sontak saja kami setuju karena badan yang udah bau pesing kencing babi oleh keringat berlebih para pendaki pemula yang perlu dibersihkan kembali!

Menurut pernyataan tak resmi yang dikeluarkan oleh mulut salah seorang pemuda kampung saya, ternyata di kaki Gunung Sago terdapat lebih kurang 4 tingkat air terjun yang semuanya belum terjamah. Karena rasa penasaran yang berlebih, kami mencoba menyusuri air terjun tersebut. Alhasil, dengan segenap tenaga dan upaya, kami cuma bisa sampai ke tingkat 2 air terjunnya. Tapi tak apa, kami cukup bersyukur bisa menikmati alam Indonesia yang hijau dan indah ini!

Selamat liburan bagi teman-teman yang berlibur dan teman-teman yang belum bisa liburan mari kita berjuang untuk liburan.

happy travel and leave no trash!


Support saya dengan share tulisan ini ke media sosialmu ya.

Follow us on Twitter @ibadahmimpi & instagram @ibadahmimpi


Baca juga: Happy Weekend di Rumah Gadang Sungai Baringin

17 Comments

  1. Hastira Hastira December 28, 2018

    selalu indah foto2nya, ambil angelnya juga keren

    • ibadahmimpi ibadahmimpi Post author | December 28, 2018

      wah makasih kak. Selamat menikmati ceritanya ya.
      Nantikan keseruan cerita perjalanan yang lainnya ya.

  2. Abdul rahman Abdul rahman December 28, 2018

    Mantap hu liburannya, pemandangan juga menarik nan cantik

    • ibadahmimpi ibadahmimpi Post author | December 28, 2018

      mantap gan. Selamat liburan juga ya

  3. Ikhwan Ikhwan December 28, 2018

    Wah keren gan, mudah mudahan bisa ikut jalan jalan juga

  4. Mei Mei Mei Mei December 28, 2018

    Wahh, kece banget pemandangan na! 🙂

    • ibadahmimpi ibadahmimpi Post author | December 28, 2018

      wah iya kak, walaupun gunungnya emang bukan favorit buat pendaki, tapi tetap asri dan bagus pemandangannya.

  5. Lia Lathifa Lia Lathifa December 28, 2018

    Aku baru tau ternyata Sumbar memiliki kekayaan alam yang indah gak kalah seperti di Jawa sini. Kebayang enak betul itu mendaki gunung bersama-sama, apalagi ada sambal dadakan 😁

    • ibadahmimpi ibadahmimpi Post author | December 28, 2018

      iya, ada banyak tempat yang masih belum terjamah sebenarnya.
      wahahaha, sambal ala manusia rimba. hihihihii

  6. Himawan Sant Himawan Sant December 29, 2018

    Indahnya alam gunung Sago …
    Kepincut pengin ngerasain segernya mandi di air terjunnya itu ….
    Pasti adem seger airnya, ya

    • ibadahmimpi ibadahmimpi Post author | December 29, 2018

      iya mas bro. Mari berkunjung. hihi

    • ibadahmimpi ibadahmimpi Post author | January 2, 2019

      hahaha. ada bro, cuma gak hist di kalangan para pendaki.

Leave a Reply

Mission News Theme by Compete Themes.