Press "Enter" to skip to content

SENJA PADA AYAH

Sekian lama ia tak bertemu senja.

Akhirnya ia menemukannya di balik kelopak mata.

Ia tak tahu kenapa ia selalu ingin bertemu senja.

Mungkin saja senja pernah memintanya untuk menemuinya. Di tepi pantai yang sunyi, ia meneguk secangkir senja. Warnanya pekat.

“kurang manis”, katanya.

Kemudian ia menambah sedikit gerimis pada cangkir tersebut.

“lumayan manis”

Senja di dalam cangkir tetap pekat.

“seperti biasa, aku selalu merindukanmu”, katanya pada senja sambil menyeruput secangkir senja yang pekat.

 

Setelah bercakap-cakap dengan senja sambil minum senja, ia kembali meramu kata-kata untuk dikirimkan kepada rindunya. Senja.


Entah mengapa ia selalu ingin menemui senja seperti senja pertama yang dilihatnya ketika ayahnya mengajaknya duduk di pantai sambil mengunyah kerupuk udang. Waktu itu usianya sepuluh tahun. Tapi ia ingat betul warna senja yang cemerlang selalu membayang di kelopak matanya. Ia seperti melihat burung-burung yang terbang dilangit seakan berhenti. Siluet kapal-kapal nelayan semakin membuat senja tampak sempurna. Bola api yang membakar langit begitu merah sehingga memancarkan kobaran api yang menjilat langit tak berawan. Ia mengabadikan senja itu dalam botol minuman yang digenggamnya.

Setiap hari ia ingin menemui senja itu. Tapi duapuluh tahun berlalu senja itu tak pernah muncul lagi. Ia tak mengerti mengapa senja itu tak pernah ingin menemuinya lagi.

Ayahnya pernah berkata, “senja adalah rindu, anakku.”

Ia tak mengerti apa maksud ayahnya. Ia ingat betul setiap kali ayahnya selalu membawanya ke pantai, ia selalu bertemu senja itu. Ketika ayahnya tiada, senja ikut tiada.

“ayah telah membawa senja bersamanya”, kata Ibunya suatu hari sebelum tidur. Pagi harinya, ibunya tak pernah bangun lagi.

Ketika senja yang pekat berlalu dihalau kegelapan, ia beranjak menemui rindunya. Tak jauh dari tempatnya bercakap dengan senja. Ia menemui rindunya di pusara. Rintik hujan mengalir di kedua pipinya.

 


Support us with share this post to your social media.

And Don’t forget to follow us on Twitter @ibadahmimpi, instagram @ibadahmimpi / @redhaandikaahdi & like us on Facebook.

2 Comments

  1. Hastira Hastira December 19, 2018

    nice post

Leave a Reply