Press "Enter" to skip to content

LELAKI YANG BERNAMA ROMAN

(1)

Aku sudah bosan mengingatkan Roman tentang cinta. Sudah kering lidahku berkata – kata. Tak sekalipun ia dengar dengan seksama, palingan ia ingat awalan kata, habis itu ia lupa entah apa.

Si Roman, kawanku, mahasiswa tingkat akhir yang terakhir. Selalu datang padaku kala sedih menjelang. Ceritanya sedih melulu, sampai – sampai aku juga terbawa pilu. Ia selalu bercerita perihal yang sama. Tentang cintanya pada wanita, junior di kampusnya, nan saban waktu menyita perhatiannya.

Selalu ku tanya, “Roman, kau sudah menghubunginya?”

Jawabannya buatku linglung.

“aku tak berani”, ujar pria somplak berwajah kelam.

Ah! Si Roman, Cuma tampangnya saja yang menyeramkan, hatinya rapuh seperti daun kering, disentuh sedikit saja daun kering itu, hancur. Mental kerupuk memang. Langsung saja aku berkata seperti motivator di usia senja.

“Roman, kawanku, jika kau tak berani memulai, bagaimana kau bisa mewujudkan khayalanmu?”, sembari menepuk pundak si Roman.

“kau benar juga kawanku”, Roman menjawab.

Uhh, serasa sudah seperti motivator ulung saja aku ini, memberikan kata – kata yang entah darimana ku dapatkan.

“aku harus berani menghubunginya”, si Roman dengan lantang berucap.

Aku mengangguk saja, sedikit mencibirinya.

Kau mungkin bertanya, kenapa pula aku mencibir si Roman?. Bagaimana tidak?, 3 tahun sudah si Roman bercerita padaku perihal yang sama, tentang wanita yang sama, dan tentang persoalan yang sama. Aku heran, baru kali ini aku lihat manusia nan mau bertahan perihal rasa begitu lama. Aku saja tak seperti itu.


photo by ibadahmimpi.com

(2)

Malam ini, kawanku, si Roman menghubungiku lagi. Ah, baru melihat panggilan masuknya saja membuatku enggan. Terlebih lagi ia datang dengan menerjang. Membawa air hujan masuk ke tempatku yang berserakan. Tak dia sadari stok mie terakhirku hampir diinjak. Oh hampir saja hidupku berakhir dalam puasa malam sampai entah kapan.

“kau kenapa kawan?”, tanyaku.

Si Roman menggigil, tak menjawab tanyaku. Matanya kian kemari mencari api. Ya, api untuk membakar yang patut dibakar.

“kau ada korek boy?”, si Roman menyerudutku pertanyaan.

Sialan, tak dia jawab tanyaku, malam mencari sesak malam.

“aku tak punya”, jawabku biasa.

Ku tanya lagi padanya, pertanyaan sama.

“kau kenapa Roman?”, dengan nada sedikit meninggi.

“kau berilah aku air dulu, tak kau lihat nafasku dapat kau hitung satu – satu”, jawabnya sambil terengah.

Ah, dengan dongkol ku ambilkan air segelas yang hampir ku campur dengan amplas. Ku berikan segelas air, berharap si Roman dapat tenang mengalir.

“boy, kau dengar aku”, si Roman antusias.

Aku penasaran, apa pula yang membuat si bodoh ini menerjang hujan menembus jalanan menuju tempatku, yang jaraknya hampir bisa kau hitung dalam hitungan sejam.

“dia menyukaiku”, katanya dengan mata berbinar.

“siapa?”, jawabku sekaligus tanya ku selipkan terang – terangan dengan alis mengangkat.

“dia, pujaanku”, si Roman kegirangan.

Aku juga, ikut bahagia dalam setiap gejolak asamara si Roman, yang ku tau takkan berkesudahan akhirnya. Akhirnya, si Roman memetik rindunya, yang 3 tahun membodohi otaknya saban waktu.

Lalu tanyaku muncul entah darimana.

“darimana kau tau Roman?”

“dari Ig (salah satu media sosial), dia menyukai fotoku”, jawabnya.

Damaiku mendiam, sunyi menghampiriku dengan pertanyaan. Ah, si Roman, bodoh tingkat berapa ia sekarang?. Hanya pujaannya menyukai foto di Ig (media sosial), ia sudah mampu menerjang hujan dari tempatnya menuju tempatku yang jauhnya tak karuan. Cuma itu kawan, Cuma menyukai foto di Ig, tak lebih. Yang lebih itu adalah otaknya si Roman yang lebih gila.

Aku tak berani menyela, ia sudah senang bermain dengan khayalnya. Aku teriba dengan Roman.


photo by ibadahmimpi.com

(3)

Ia mulai harap – harap cemas, nafasnya sesak seperti pelari kehabisan energi di suatu pagi, udara terlalu banyak lepas dari belenggu dadanya, alih – alih bisa ku manfaatkan untuk mengisi udara balon dan terbang menuju awan. Si Roman, kawanku, ku lihat dia, nafasnya sesak, tulang rusuknya kembang – kempis tak karuan, bukan asma, bisa ku katakan ia cemas. Sebuah bentuk pemberontakan terhadap kenyataan.

Ku lihat di tangannya, memegang Handphone yang selalu dibanggakannya, bermerek memang, canggih, terbaru, masa kini, katanya. Tapi sayangnya tak cocok dipakai pria kesepian layaknya si Roman. Kalau saja handphone itu bisa berbicara, sudah mengundurkan dirilah ia dipunyai si Roman, pria kesepian yang banyak ber-angan. Tak level-lah alat secanggih itu sunyi tanpa pemberitahuan, yang ada palingan pesan dari provider atau mamanya yang menanyakan kabar, tak lebih, tak ada perempuan lain yang sudi bercengkrama dengannya lewat pesan singkat, selain mamanya tadi. Ah, kasihan sekali aku dengan handphonenya.

Penasaranku meraba, ku lempar Roman dengan gumpalan kertas yang ku buat spontan dari kertas yang ada di sekitarku. Yang sesaat nanti akan ku sesali. Oh, lemparanku menuju kepalanya, tepat, mulus, tanpa hambatan. Ah! Lemparan kertasku saja tepat seperti itu, bagaimana jadinya kalau aku bermain basket? Uh, sudah ku kalahkan cecunguk – cecunguk yang meremehkanku hanya perihal tinggi badan itu. Dan bahkan, aku akan jadi pemain yang mereka bangga – banggakan sebab lemparanku selalu tepat sasaran, 3 poin di tangan.

“ah, kau kenapa boy?”, si Roman yang ku lempar tadi, ia menoreh ke arahku sembari komat – kamit tak jelas.

“eh, seharusnya aku yang tanya sama kau Roman, kenapa kau bak melihat hantu saja?”, tanyaku geram sembari menopang badan dengan tanganku.

“boy, kau harus dengarkan aku”, ekspesinya serius, cocok dengan wajahnya yang tirus.

Ku dekatkan wajahku kepadanya, inginku dengar dengan seksama perihal apa yang akan disampaikan pria sendu itu.

“boy, sepertinya, aku harus belajar mengikhlaskan pujaanku”, sebut pria somplak dengan ekspresi yang menyedihkan dan berakhir pada tetesan sendu.

“ah, kenapa pula kau sekarang?”, ucapku.

Si Roman tak menjawab, hanya sedih tersirat di wajah jeleknya itu, pandangannya kosong menatap satu arah, entah apa dalam pikirannya itu, tak tahu aku.

Oh tidak, si Roman, kalau ia sudah berekspresi sedih seperti itu, aku selalu terbawa suasana tak karuan, ibaku mengikat dalam – dalam, tak tega jadinya mendengar pria itu selalu kalah dalam takdir melaju. Aku selalu kasihan dengan si Roman, berumur sudah aku berteman dengan pria ini, dan perihal cinta, ya, dia selalu ditertawakan takdir sendiri. Kawan, ku ceritakan padamu, baru dua kali aku melihat pria ini jatuh cinta, dan setiap itu ia ditertawakan takdir. Akan ku ceritakan padamu, tapi tolong, rahasiakan, jangan sampai si Roman tahu, nanti aku yang disalah – salahkan, bertambah pula lah deritanya nanti. Kau tak tega kan menambah derita orang?.

Pertama, si Roman, kawanku itu, jatuh cinta untuk yang pertama kali sewaktu dulu, kala umur 12 masih melekat dalam namanya, dan kau tahu berapa lama ia memendam rasa dalam – dalam?. 7 tahun kawanku, 7 tahun, dan bilangan itu adalah angka 7. Selama 7 tahun itu, tak dinampakkannya, tak seorangpun tahu kecuali aku, teman dekatnya. 7 tahun sudah ia jatuh pada tatapan indah wanita sempurna itu, katanya. Ah, gila, 7 tahun kau memendam rasa dalam – dalam, bisa – bisa kau di tenggelamkan kelam. Tak tahulah apa yang mau ku kata, kata kataku tak mempan padanya. Dan yang membuatku semakin linglung itu, si Roman tak berani sekalipun bicara dengan pujaannya selama 6 tahun lebih, Cuma berani melihat diam – diam, lalu tersenyum. Aku heran, apa yang dia rasakan, hingga hanya melihat pujaan saja sudah membuatnya senang?, bukan seperti aku. Barulah di tahun ke 7, masa penghabisannya di kampung, yang sebentar lagi akan menuju perkuliahan ia mampu beranjak dari kediamannya, mulai menyapa pujaan hatinya, itupun harus ku “kompori”dulu. Dan ya, ku rasa cintanya berbuah hasil, walaupun hanya sekejap rasa. Takdir menertawakan untuk pertama kali.

Dan sekarang, untuk kedua kalinya, takdir kembali menertawakan si Roman. Genap sudah 3 tahun si Roman diam – diam menyelinap melihat pujaan hatinya, yang tak lain tak bukan, juniornya di kampus, satu tingkat di bawahnya. Dan sekarang?, ia menyudut kembali dalam sendu, takdir sepertinya tak mau ia berlalu dari waktu. Aku kasihan.


(4)

Telah habis pikirku perihal si Roman, tak ku temui jawaban dalam nuansa malam. Semenjak tadi si Roman bercerita, tak sekalipun ku berpaling dari ceritanya, seperti anak kecil mendengar cerita sebelum tidur. Indah, mencekam, dan yang pasti, ceritanya tentang sayup – mayup percintaan. Tapi perihal kali ini berbeda, ia bercerita menghaturkan iba. Kasihan aku pada pria terlampau setia pada wanita yang disana.

Berlama ku dengarkan ceritanya, satu yang slalu ku tangkap sekian lama, bahwa pujaannya telah melabuhkan hati pada sosok adam nan lain, Cuma itu intinya, tak lebih tak kurang. Tertutuplah sudah pintu rasa yang telah lama ini dibuka pria sendu itu. Sudah berbagai cara ia lakukan, tak sekalipun pintu itu terbuka. Selama 3 tahun, tak sekalipun!. Aku bersungguh – sungguh dengan kata “tak sekalipun” itu kawan.

Ku seduh kopi yang baru saja ku buat dengan seduhan kopi hangat, yang ku harap malam si Roman makin hangat dalam rasa yang sesak sangat. Kawan, ku ceritakan padamu, sebab kepada siapa lagi aku bercerita kalau bukan padamu?. Ku tanya satu hal, apa perihal yang kau rasa bila usahamu tak pernah berhasil membuka jendela hati pujaanmu selama 3 tahun? Apa yang akan kau lakukan ketika ia sudah punya tambatan? Bagaimana kalau bertahun kau ditolak orang yang sama terus – menerus? Apa kau masih akan tetap mengejarnya?. Kalau aku?, huh!, sudah ku cari saja wanita yang lain. Toh wanita tak satu di dunia. Lagian juga siapa pria bodoh yang masih seperti itu?. Pria bodoh itu yang pastinya si Roman, pria lugu bersenandung sendu.

Malamku semakin sempit bersama kopi pahit yang ditemani perasaan komat – kamit. Oh, rasanya semakin pahit setiap ku dengar si Roman bercerita perihal cinta. Pikiranku melayang setahun lalu di malam kami bersantai bersama di warung kopi Buk Antin. Tepat di bawah kaki gunung dengan udara dingin membumbung.

“Ah, gila! Kau masih menyukainya sampai saat ini?”, aku membentak sambil menyeduh kopi hangat yang baru saja disematkan si Mamat, anak Buk Antin.

“Kau pakai logikalah, tak kau tengok dia berlalu saja?”, aku menyambung sambil menyeduh kopi hangat yang barusan terletak di depanku.

Di sudut, terlihat pria aneh dengan perawakan culun, badannya kurus, rambutnya bukan lurus, tak alang seperti ombak, tsunami ku rasa. Kalau pria ini masuk hutan belantara, ku pastikan rambutnya menjadi persinggahan utama burung – burung mencari sarang.

“Roman, kawanku, ku ajari kau hakikat percintaan”, ucapku.

“Kau tengok reaksinya, jika tak ada, untuk apa masih kau kejar?”, kembali ku seduh kopi hangatku.

Pria lugu itu masih terdiam. Dia ditelan kesunyian bersama malam yang semakin kelam.

“Ku tanya padamu kawan, apa perihal yang kau sukai dari dia?”, aku bertanya dengan lagak sombong, mendongakkan wajah menghadap angkasa. Tak pakai mata ku lihat si Roman, melainkan melalui lubang hidung.

Segenap udara dingin merasuk warung kopi dengan suasana yang semakin sepi. Roman menatap dalam – dalam pada kopi hangat yang pekat di depannya. Pandangannya kosong, pikirannya menerawang entah memikirkan apa. Hening memuncak dalam detik yang tergeletak. Ku seduh kembali kopi hangat untuk mencari hangat –hangat sebab udara dingin yang sangat. Heningku mulai pecah beberapa detik kemudian, Roman menerjang ufuk logikaku kala itu.

“Kemisteriusannya”, si Roman berbicara.

Sontak aku terdiam, menatap dalam – dalam pria culun itu. Tak ku pikirkan bakalan seperti itu jawabannya, memporak – porandakan susunan kata yang saban waktu ku siapkan untuk membuat kawanku ini mau mencari wanita lain. Telah habis pikirku sekarang, tak tahu berkata – kata apa. Pikirku si Roman menjawab kecantikan, kekayaan, atau apalah yang sama ujung pangkalnya. Tapi ini asing, aku bingung bukan kepalang. Ku seduh kopi tadi, semakin pahit rasanya.

Hangatnya kopi menyedotku kembali ke ruangan pengap di depan pria sendu yang bercerita. Sungguh tak alang ku saksikan si Roman. Pria malam dirundung malang, serta takdir baik yang tak kunjung membaik. Ia masih bercerita, tak mau ku sela. Biarlah malam menelan ceritanya. Dan ku harap hatinya dapat sembuh dengan rasa yang tak kambuh – kambuh. Ku seduh kopi hangatku, semakin pahit ku rasa tiap tegukannya. Sepahit rasa Roman dalam rindu yang sendu.


photo by ibadahmimpi.com

(5)

Begitu banyaknya perihal hidup yang takkan pernah kita ketahui. Dan bagi pria itu, saban ini adalah waktunya mengungkapkan hal yang tersembunyi dari dulu. Ada yang tak mampu disingkap dari dulu, tentang rahasia perihal hati, dan meluas merebak menghujam perasaan.

“Tentang perempuan, dan sialnya, ini tentang dua orang perempuan”, katanya.

Yang entah kenapa merusah hatinya, dan menyeretnya masuk ke dasar palung, tempat kenangan meraung, dan lamunan menjadi kawan bersama.

Yang pertama”, ujarnya.

“Sosok indah menawan, dengan segala keanggunannya tentang wanita. Cantik, feminim, dan memesona. Wajahnya bak oasis di padang gurun. Menenangkan. Dia, yang ku sebut sebagai cinta pertama dalam hidup. Memecahkan denyut jantungku, merusak merona saraf wajahku, membekukan persendian setiap sudut tubuhku, dan canggung adalah kawanku ketika dia di sekitarku”, sambungnya.

Betapa pria itu ingin sekali melihatnya, satu kali saja, sudah cukup.

Yang kedua”, lanjutnya.

“Dia perwujuban dari sosok misterius. Selalu menimbulkan pertanyaan dalam khayalku, menghancurkan semua pikiran tentang perempuan, Membuatku selalu mengutuk diri setiap bertemu. Cantik, tomboi, dan misterius. Dia yang disebut dalam pikiranku setiap hari”, dengan tatapan menembus cakrawala pria itu bercerita.

“Betapa aku ingin selalu bercerita dengannya. Betapa aku ingin bertengkar dengannya. Betapa aku cemburu melihatnya bercengkrama dengan orang lain, Betapa aku memikirkannya setiap waktu, Dan dia adalah betapa-ku”, tandas pria itu cemara itu.

Kau mungkin berpikir bahwa pria cemara itu lelaki kurang ajar. Memikirkan perihal 2 perempuan sekaligus. Dan kutukan akan menghujam dari palung lidahmu padanya. Tapi itulah pria cemara, dengan segala keterasingan, dengan segala perasaan. Jujur adalah pilihannya saat ini.

“Dan sialnya, mereka, yang kusebut tadi”, tak hentinya pria itu bercerita.

“Hanya ada dalam jagad harapanku, bukan nyataku. Sebab nyataku tak pernah seberuntung itu,Mereka berlalu, tak memandan, hanya berlalu. Tanpa menoleh”.

Aku terdiam. Tanyaku merasuk dalam – dalam.

“Dan aku masih bertanya pada khayalku, mana yang harus ku kejar?”, pria cemara itu bertanya kepada angannya. Sudah tak di dunia ini dia sekarang.

“Ataukah harus ku biarkan mereka berdua pergi. Lalu mengutuk diri sebab membiarkan halnya berlalu”, tak henti ia menggigau.

Aku terlalu bingung sekarang. Dan waktu tak mau kompromi, ia tak membiarkanku bicara sejenak. Pria itu tak mau mendengarkanku. Dan aku juga tak tau harus berkata apa. Bisa apa aku perihal ceritanya? Kisah cintaku juga tak pernah mulus.

“Ah, aku lupa mengatakannya padamu, biar ku luruskan dahulu. Mereka berdua, yang ku ceritakan tadi, tak merasakan hal yang sama padaku, mereka berdua punya cinta masing-masing. Dan aku, adalah pejuang dari cinta nan semu, dan pilihanku ada dua, pertama memutuskan untuk siapa, dan kedua, berusaha memenangkan hatinya”, pria itu menggingau sendiri.

Aku ingin menenangkan pria itu, tapi ia mengubah topik. Sekarang ia bercerita tentang politik. Ah! Akhirnya selesai juga pria cemara itu bercerita perihal cintanya. Sekilas aku melihat air menggenang di sudut matanya.


Support us with share this post to your social media.

And Don’t forget to follow us on Twitter @ibadahmimpi, instagram @ibadahmimpi / @redhaandikaahdi & like us on Facebook.

2 Comments

  1. Hastira Hastira November 19, 2018

    nice post

Leave a Reply